BANYUWANGI  || 🌏PratamaNews.com🇮🇩 ||  Universitas Bakti Indonesia (UBI) Banyuwangi terus mendorong peningkatan literasi konservasi dan hukum lingkungan melalui inovasi media pembelajaran berbasis potensi lokal. Upaya tersebut diwujudkan melalui penelitian bertajuk “Herbarium Digital AR Tanaman Kopi Berbasis Limbah Organik sebagai Media Pembelajaran Meningkatkan Literasi Konservasi dan Hukum Lingkungan Kawasan Ijen Geopark.” Yanga diketuai Thorieq Moh. Yusuf, M.Pd. dan beranggotakan RIMA SUWISTIKA, M.Pd. dan NURI HIDAYATI, S.H.,M.H.

Kegiatan pelatihan sekaligus edukasi pembuatan herbarium serta pemantapan literasi konservasi dan literasi hukum lingkungan telah dilaksanakan pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Kegiatan ini melibatkan peserta didik di kawasan penyangga Ijen Geopark sebagai bagian dari upaya mengenalkan pentingnya pelestarian lingkungan melalui media pembelajaran yang inovatif dan berbasis potensi lokal.

Tanaman kopi dipilih karena memiliki potensi besar di Kabupaten Banyuwangi, khususnya Kelurahan Gombengsari yang berada di kawasan Ijen Geopark. Beragam jenis kopi seperti Arabika, Robusta, Excelsa, dan Liberika dibudidayakan di wilayah tersebut. Tingginya aktivitas perkebunan kopi juga menghasilkan limbah organik yang selama ini belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai media edukasi.

Melalui penelitian ini, limbah organik tanaman kopi dimanfaatkan sebagai bagian dari herbarium digital berbasis Augmented Reality (AR) yang dikemas dalam bentuk gantungan kunci. Media tersebut dilengkapi QR Code yang memungkinkan peserta didik mengakses informasi digital mengenai morfologi tanaman kopi, pemanfaatan limbah, nilai konservasi, serta informasi hukum lingkungan.

Ketua tim, Thorieq Moh. Yusuf, M.Pd., menyampaikan bahwa literasi konservasi perlu terus diterapkan dan diperkuat di lingkungan masyarakat maupun sekolah.

“Literasi konservasi di lingkungan harus tetap diterapkan dan dipedulikan agar alam kita tetap lestari. Upaya pelestarian tersebut juga harus disesuaikan dengan hukum lingkungan yang berlaku,” ujar Thorieq.

Menurutnya, pengenalan konservasi kepada generasi muda perlu dilakukan melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan mereka. Pemanfaatan teknologi digital dan potensi lokal menjadi salah satu cara untuk membuat pembelajaran lingkungan lebih menarik dan kontekstual.

Sementara itu, Khoirul Adhor Al Wafi, S.Pd.I., selaku Kepala Sekolah, menyambut positif pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menilai kegiatan tidak hanya mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan, tetapi juga memberikan pengalaman kepada peserta didik untuk memanfaatkan limbah organik yang tersedia di alam sebagai media pembelajaran.

“Kegiatan ini sangat bagus karena selain mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan, peserta didik juga dapat belajar memanfaatkan limbah-limbah organik yang ada di alam sebagai media pembelajaran,” tuturnya.

Kegiatan pelatihan dilakukan melalui edukasi mengenai konservasi dan hukum lingkungan yang dilanjutkan dengan praktik pembuatan herbarium. Peserta dikenalkan pada proses pemanfaatan bagian tanaman kopi dan limbah organik sebagai media pembelajaran yang memiliki nilai edukatif.

Pengembangan herbarium digital AR tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan pemahaman peserta didik mengenai keanekaragaman hayati, pentingnya konservasi, pengelolaan limbah, serta kesadaran terhadap hukum lingkungan. Media ini juga menjadi bentuk integrasi antara potensi lokal Banyuwangi, teknologi digital, pendidikan, dan pelestarian lingkungan.

Inovasi tersebut mendukung SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 15 tentang Ekosistem Daratan. Melalui kegiatan ini, generasi muda diharapkan semakin peduli terhadap lingkungan dan mampu menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian kawasan Ijen Geopark.