Pratamanews.Com – Surabaya – Jalan Tunjungan bukan sekadar ruas jalan di jantung Kota Surabaya. Ia adalah saksi bisu perjalanan panjang sejarah kota pahlawan, dari masa kolonial hingga era moderen.
Kini, di bawah konsep “Tunjungan Romansa,” kawasan ini tak hanya bangkit sebagai ikon wisata, tetapi juga menampilkan wajah baru Surabaya yang lebih estetis dan atraktif.
Meski demikian, geliat pariwisata ini membawa tantangan tersendiri, terutama bagi masyarakat lokal yang telah lama menghuni kawasan sekitar.
Jalan Tunjungan tercatat sebagai salah satu jalan tertua di Surabaya, berkembang pesat sejak zaman penjajahan Belanda. Kala itu, ia menjadi pusat perniagaan kelas atas, dipenuhi toko-toko mewah, perkantoran, dan hotel bergaya arsitektur Eropa. Salah satu bangunan paling ikonik, Hotel Majapahit, menjadi saksi sejarah penting saat rakyat Surabaya merobek bendera Belanda pada 19 September 1945 — simbol awal perlawanan yang kemudian dikenal dalam pertempuran 10 November.
“Dulu kalau orang ngomong belanja, ya ke Tunjungan. Jalan ini mewah, tempat orang-orang penting zaman Belanda,” kenang Pak Hardi (68), warga Ketabang yang telah menyaksikan perubahan kawasan itu selama puluhan tahun.
Upaya menghidupkan kembali semangat kejayaan Tunjungan diwujudkan melalui program “Tunjungan Romansa” yang diresmikan Pemkot Surabaya pada 2021. Kawasan ini ditata ulang menjadi kawasan pedestrian berkonsep tempo dulu, lengkap dengan lampu-lampu klasik, mural sejarah, pertunjukan seni jalanan, dan spot swafoto yang memikat. Setiap akhir pekan, kawasan ini dipadati wisatawan yang datang untuk menikmati atmosfer historis yang dibalut nuansa kekinian.
“Setiap malam minggu rame. Banyak orang datang buat foto-foto atau sekadar jalan. Tunjungan jadi hidup lagi,” ujar Novi (29), pedagang kaki lima yang sehari-hari berjualan di area tersebut.
Namun di balik kemegahan Tunjungan Romansa, terdapat ironi yang dirasakan sebagian masyarakat. Banyak warga lokal dan pedagang kecil yang justru merasakan tekanan akibat transformasi kawasan tersebut. Mulai dari kemacetan lalu lintas, keterbatasan lahan parkir, hingga penggusuran area dagang tradisional oleh petugas penertiban.
“Kami senang Tunjungan ramai lagi. Tapi dagangan kami sekarang dibatasi, nggak boleh terlalu dekat jalan utama. Padahal itu tempat strategis,” keluh Bu Sri (45), pedagang minuman keliling yang mengaku penghasilannya menurun sejak adanya penataan ketat.
Tak hanya itu, naiknya nilai sewa rumah dan ruko di sekitar kawasan juga menyebabkan banyak warga asli terpaksa pindah ke pinggiran kota. Mereka digantikan oleh bisnis modern seperti kafe, restoran, hingga butik kekinian yang menyasar segmen wisatawan.
“Rumah-rumah banyak dijual karena sewa makin mahal. Warga asli banyak yang pindah, diganti kafe-kafe,” ungkap Pak Anas (56), warga asli Ketabang yang tinggal di kawasan itu sejak 1980-an.
Pemerintah kota menyatakan telah menjalankan berbagai program pendukung seperti pembinaan UMKM, penataan PKL, serta revitalisasi kawasan Kota Tua. Namun, pelaksanaannya dinilai belum menyentuh persoalan mendasar, terutama ketimpangan antara pelaku wisata baru dan warga lama yang merasa termarjinalkan.
“Harusnya kami dilibatkan sejak awal, bukan cuma disuruh menyesuaikan. Kami juga bagian dari sejarah Tunjungan ini,” tegas Ratna (34), aktivis komunitas warga Ketabang yang aktif mengadvokasi hak-hak warga lokal.
Tunjungan Romansa memang berhasil memoles kembali wajah lama Jalan Tunjungan menjadi destinasi yang penuh daya tarik. Namun, jika transformasi ini tidak disertai kepekaan sosial dan keberpihakan kepada warga lokal, maka romansa itu berisiko berubah menjadi ironi. Untuk itu, sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha menjadi kunci agar kawasan ini benar-benar menjadi ruang publik yang inklusif, bersejarah, dan berkeadilan.
[Hito]




