BANYUWANGI |🌏PratamaNews.com🇮🇩 | Sebanyak 700 jamaah dari 102 Majelis Taklim se-Kecamatan Gambiran berkumpul dalam Pembinaan dan Penguatan Majelis Taklim di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Gambiran, Rabu (23/9/2026). Ribuan perhatian dan energi keumatan bertemu dalam satu ruang pembinaan: memperkuat akidah, menghidupkan syariat, dan menghadirkan akhlak dalam kehidupan sosial.

 

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi Dr. H. Chaironi Hidayat, S.Ag., M.M., Kepala Kesbangpol Drs. R. Agus Mulyono, M.Si., Ketua FKUB Drs. H. Nur Khozin, S.H., M.H., Kepala KUA Gambiran H. Yusron Suhaimi, S.H.I., M.H.I., unsur Forkopimka, MUI, DMI, organisasi kemasyarakatan, serta Ketua LKKNU Banyuwangi Dalilatus Saadah.

 

Di hadapan ratusan jamaah, Chaironi menegaskan bahwa kekuatan umat tidak semata-mata diukur dari banyaknya aktivitas keagamaan, tetapi dari seberapa kuat nilai agama menjelma menjadi perilaku dan akhlak sosial.

 

“Islam terdiri dari akidah dan syariat. Akidah harus diperkuat terlebih dahulu, kemudian diikuti dengan pelaksanaan syariat,” tegasnya.

 

Chaironi mengajak jamaah melihat kembali perjalanan dakwah Rasulullah SAW. Makkah menjadi fase penguatan tauhid dan keimanan. Setelah hijrah ke Madinah, fondasi tersebut berkembang menjadi kehidupan masyarakat yang dibangun dengan syariat, tata sosial, dan nilai kemanusiaan.

 

Karena itu, Majelis Taklim tidak boleh berhenti sebagai ruang transfer pengetahuan agama. Ia harus menjadi ruang tumbuhnya keteladanan, kepedulian, persaudaraan, dan kematangan sosial.

 

Dalam penguatan tersebut, Penyuluh Agama Islam memiliki posisi strategis sebagai ujung tombak pembinaan masyarakat. Penyuluh hadir mendampingi Majelis Taklim, menerjemahkan pesan keagamaan ke dalam konteks kehidupan sehari-hari, sekaligus menjadi jembatan komunikasi antara KUA dan masyarakat.

 

Sementara itu, Kepala Kesbangpol Banyuwangi Agus Mulyono menekankan bahwa kerukunan merupakan fondasi penting kehidupan bermasyarakat. Pemerintah, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat perlu bergerak bersama menjaga harmoni sosial.

 

Ketua FKUB Banyuwangi Nur Khozin mengingatkan pentingnya early warning system dalam menghadapi potensi persoalan keagamaan. Menurutnya, kewaspadaan dini diperlukan karena terdapat pemahaman keagamaan tertentu di wilayah Gambiran yang belum diakui.

 

Pembinaan tersebut sekaligus menegaskan posisi KUA sebagai simpul strategis pembinaan umat. Dari KUA, pesan keagamaan diharapkan bergerak menuju Majelis Taklim, dari Majelis Taklim mengakar di tengah masyarakat, dan pada akhirnya bermuara pada kehidupan umat yang semakin kokoh dalam akidah, tertib dalam syariat, serta luhur dalam akhlak. (Tiem)