Pratamanews.com
Lampung Utara ǁ Setiap bulan suci Ramadhan, suasana sore hari di berbagai sudut kota hingga pelosok desa berubah menjadi lebih semarak. (20/2/26)
Jalanan dipenuhi masyarakat yang berburu makanan dan minuman untuk berbuka puasa. Namun dalam beberapa tahun terakhir, muncul istilah baru yang ramai diperbincangkan di kalangan masyarakat. Khususnya generasi muda, yakni fenomena “war takjil”.
Istilah ini merujuk pada aktivitas berburu takjil secara cepat dan kompetitif menjelang waktu berbuka puasa, baik secara langsung di lapak pedagang maupun melalui platform digital.
Fenomena ini tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi juga menjelma menjadi tren sosial yang kerap dibagikan di media sosial dalam bentuk foto, video, hingga siaran langsung.
Tradisi Lama dengan Wajah Baru
Berburu takjil sejatinya bukan hal baru dalam tradisi Ramadhan. Sejak dulu, masyarakat telah memanfaatkan waktu menjelang magrib untuk mencari hidangan berbuka di pasar kaget atau pedagang musiman di pinggir jalan.
Namun kini, aktivitas tersebut mengalami transformasi seiring dengan perkembangan teknologi dan gaya hidup digital.
Di sejumlah wilayah Indonesia, aktivitas ngabuburit tak lagi sekadar berjalan santai atau bercengkerama di sekitar masjid.
Banyak warga yang memanfaatkan waktu tersebut untuk menjelajahi sentra kuliner Ramadhan demi mendapatkan menu takjil favorit sebelum kehabisan.
Tak jarang, antrean panjang terlihat di lapak-lapak yang menjual makanan viral atau minuman kekinian. Bahkan, beberapa pedagang mengaku dagangannya habis dalam waktu singkat. Akibat tingginya minat pembeli yang datang hampir bersamaan menjelang waktu berbuka.
Media Sosial dan Efek Viralitas
Fenomena war takjil tidak dapat dilepaskan dari peran media sosial yang mempercepat penyebaran tren kuliner selama Ramadhan. Menu takjil yang unik atau memiliki tampilan menarik kerap menjadi viral dan memicu lonjakan pembeli dalam waktu singkat.
Konten berburu takjil yang diunggah oleh pengguna media sosial juga turut memengaruhi perilaku konsumen. Banyak masyarakat yang sengaja mendatangi lokasi tertentu setelah melihat rekomendasi dari platform digital.
Hal ini memberikan dampak positif bagi pelaku UMKM, terutama pedagang musiman yang menjajakan aneka makanan berbuka puasa.
Promosi secara tidak langsung melalui media sosial mampu meningkatkan omzet penjualan tanpa harus mengeluarkan biaya pemasaran tambahan.
Antusiasme atau Tren Musiman?
Meski memberikan peluang ekonomi, fenomena war takjil juga memunculkan pertanyaan mengenai esensi Ramadhan itu sendiri. Sebagian kalangan menilai bahwa aktivitas tersebut berpotensi menggeser makna ngabuburit dari momen refleksi spiritual menjadi sekadar kegiatan konsumtif.
Namun di sisi lain, tingginya antusiasme masyarakat dalam berburu takjil juga dapat dilihat sebagai bentuk kebersamaan dan semangat berbagi yang tetap terjaga.
Interaksi antara pedagang dan pembeli, serta meningkatnya aktivitas ekonomi lokal, menjadi indikator bahwa tradisi Ramadhan terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Peluang Ekonomi di Bulan Suci
Bagi pelaku usaha mikro, fenomena ini justru menjadi berkah tersendiri. Ramadhan membuka peluang bagi masyarakat untuk menjalankan usaha musiman.
Dengan modal relatif kecil, namun berpotensi menghasilkan keuntungan yang signifikan dalam waktu singkat. Sejumlah warga bahkan memanfaatkan halaman rumah atau lahan kosong untuk berjualan takjil selama bulan puasa.
Variasi menu yang ditawarkan pun semakin beragam, mulai dari jajanan tradisional hingga minuman modern yang mengikuti tren pasar.
Dengan strategi yang tepat dan kualitas produk yang terjaga, usaha takjil musiman berpotensi berkembang menjadi bisnis berkelanjutan setelah Ramadhan berakhir.
Menjaga Keseimbangan di Tengah Tren
Fenomena war takjil mencerminkan dinamika sosial masyarakat di era modern. Tradisi lama tetap hidup, namun hadir dalam bentuk yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan gaya hidup.
Di tengah semaraknya tren ini, masyarakat diharapkan tetap menjaga keseimbangan antara aktivitas konsumsi dan nilai-nilai spiritual yang menjadi inti dari ibadah puasa.
Ramadhan bukan hanya tentang berburu hidangan berbuka, tetapi juga tentang memperkuat kebersamaan, kepedulian sosial, dan refleksi diri.
Dengan demikian, war takjil dapat dimaknai tidak sekadar sebagai tren musiman, melainkan sebagai bagian dari transformasi budaya Ramadhan yang terus berkembang dari waktu ke waktu.




