Pratamanews.com – Gresik — Sejumlah pemuda yang tergabung dalam Gerakan Pemuda Berkebajikan melakukan kunjungan ke Gereja Ortodoks Rusia St. Serafim, Gresik, sebagai bentuk respons atas meningkatnya aksi intoleransi yang marak terjadi akhir-akhir ini.
Kunjungan ini diawali dengan dialog hangat bersama Romo Ireneus, dilanjutkan dengan menyaksikan langsung peribadatan liturgi Ortodoks, sebuah pengalaman yang dinilai memberikan makna tersendiri bagi para peserta.
“Tadi kami ngobrol dulu sebentar dengan Romo Ireneus, kemudian kami diajak menyaksikan liturgi Ortodoks,” ujar Zahni Hafizh Atsari, Ketua Gerakan Pemuda Berkebajikan, melalui pesan WhatsApp.
Zahni juga mengungkapkan kekagumannya pada kekayaan seni dan spiritualitas dalam tradisi Ortodoks. Ia menyoroti keindahan ikon-ikon suci dan kekhidmatan suasana ibadah.
“Kami menyaksikan bagaimana ikon-ikon orang-orang suci digambarkan dengan begitu apik. Tata cara ibadatnya sangat khidmat dan penuh makna,” tambahnya.
Kunjungan ini tidak hanya bertujuan mengenal tradisi keagamaan lain, tetapi juga membawa pesan perdamaian dan toleransi. Sinun Naswa Assifa, ketua pelaksana kegiatan, menyatakan bahwa aksi ini merupakan bentuk nyata membangun harmoni antarumat beragama.
“Selain karena tertarik dengan liturgi Ortodoks, kami ingin memberi pesan ke publik bahwa kita bisa kok saling mengenal, hidup berdampingan. Kita seharusnya fokus pada apa yang sama, bukan apa yang berbeda,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan oleh Caroline Shelly, salah satu anggota Pemuda Berkebajikan, yang menyatakan keresahannya terhadap meningkatnya praktik intoleransi di masyarakat.
“Kami sedih melihat banyak rumah ibadah dirusak, ibadah dibubarkan. Hari ini kami ingin membangun kontra-narasi. Kami ingin membangun jembatan, bukan dinding,” tegasnya.
Romo Ireneus menyambut hangat kunjungan ini dan memberikan apresiasi atas semangat lintas iman yang dibawa para pemuda.
“Terima kasih kepada teman-teman Pemuda Berkebajikan. Ada harapan bahwa dari sekian banyak pemuda, masih ada yang peduli dan punya ide baik. Teruslah berkarya, teruslah melakukan kebajikan. Semoga Tuhan memberkati,” tuturnya.
Dalam sesi dialog, Romo Ireneus juga berbagi kisah tentang sejarah Gereja Ortodoks, termasuk perjalanan spiritualnya hingga ditahbiskan sebagai imam Ortodoks di Rusia.
Gerakan Pemuda Berkebajikan menegaskan bahwa kunjungan lintas iman seperti ini sangat penting untuk memperkuat solidaritas dan mengikis prasangka.
“Anak muda harus menjadi agen persatuan, bukan perpecahan. Kami percaya kebaikan bisa ditanamkan lewat dialog dan saling mau memahami dan mengenal sesama.”ungkap zahni
[4R]




