Timor Tengah Selatan (NTT ) || pratamnews.com || Sebanyak 12 Kepala Keluarga (KK) di Desa Salbait, Dusun 2, RT 07 dan 08/RW 04, Kecamatan Mollo Barat, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), mengungkapkan kekecewaan mendalam karena bantuan pangan berupa beras yang dijanjikan tak kunjung mereka terima. (26 September 2025 )
Alih-alih mendapatkan bantuan beras yang sangat dibutuhkan, warga justru diminta untuk berpose dengan karung yang berisi jagung, pasir, jeriken kosong, bahkan ember berisi ludah sirih pinang. Ironisnya, foto-foto tersebut diduga kuat digunakan untuk membuat laporan palsu terkait penyaluran bantuan.
Kejadian memprihatinkan ini terjadi di Desa Salbait, Kecamatan Mollo Barat, pada 6 September 2025 lalu. Kasus ini baru mencuat ke publik pada 24 September 2025, setelah janji-janji oknum terkait tidak ditepati, mendorong masyarakat untuk melaporkan kejadian ini kepada tim media hingga akhirnya dipublikasikan.
Forum Pemerhati Demokrasi Timor (FPDT) mengecam dugaan penyalahgunaan bantuan pangan ini. Ketua FPDT, Doni Tanoen, S.E., menyatakan bahwa ada indikasi rekayasa dokumentasi penyaluran beras bantuan pemerintah yang melibatkan perangkat desa dan pendamping TKSK. Menurutnya, sekitar 12 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) menjadi korban praktik laporan fiktif ini.
“Warga dibawa ke rumah sekretaris desa dan diminta berfoto dengan karung yang isinya bukan beras. Foto-foto ini kemudian diunggah sebagai bukti penyaluran, padahal tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan,” ungkap Doni.
Doni menambahkan bahwa pendamping Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan Mollo Barat mengakui praktik ini saat klarifikasi bersama Kepala Dinas Sosial TTS. Warga juga diduga dimintai uang sebesar Rp30.000 per orang untuk biaya distribusi 20 kilogram beras dari kantor desa ke rumah masing-masing.
“Setelah laporan penyaluran dikirim, 24 karung beras justru menghilang dari kantor desa. Ini sangat mencurigakan,” tegas Doni.
FPDT bersama sejumlah wartawan telah melakukan investigasi langsung ke Desa Salbait. Kepala desa yang sedang sakit mengaku belum menerima laporan resmi terkait hilangnya beras bantuan tersebut.
Doni menegaskan bahwa kasus ini bukan hanya soal hilangnya beras, tetapi juga pelecehan terhadap martabat masyarakat. “Memaksa warga berfoto dengan karung berisi ludah adalah penghinaan mendalam. Kami akan mendampingi warga untuk melaporkan kasus ini ke Polres TTS,” pungkasnya.
FPDT berjanji akan mengawal kasus ini hingga tuntas demi keadilan bagi masyarakat Desa Salbait. (Ady)




