PratamaNews.Com // Sidoarjo // Kebijakan distribusi elpiji yang baru diberlakukan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sejak awal Februari telah menimbulkan dampak signifikan bagi pedagang kecil di Sidoarjo. Elpiji, yang selama ini menjadi kebutuhan pokok untuk mengolah makanan dan minuman, kini sulit didapatkan, sehingga mengganggu operasional dan menekan pendapatan para pelaku usaha mikro.
Para pedagang kecil mengaku, kebijakan yang mengharuskan pembelian elpiji hanya melalui pangkalan resmi memaksa mereka harus mengantre panjang setiap kali hendak mengisi ulang stok gas. “Setiap hari, antrean di pangkalan resmi tidak hanya memakan waktu, tapi juga mengganggu jadwal operasional kami. Hal ini berdampak langsung pada omzet usaha,” ujar Ahmad, pemilik warung makan kecil di kawasan wage kecamatan Taman, Sidoarjo.
Selain antrean panjang, kenaikan harga elpiji yang terjadi sebagai akibat dari kelangkaan semakin menambah beban operasional dan naiknya harga elpiji sampai tembus Rp. 22.000 di tingkat pengecer. Banyak pedagang harus menyesuaikan harga jual atau mengurangi jam operasional demi mengimbangi biaya tambahan yang harus dikeluarkan. “Kami terpaksa menaikkan harga menu demi menutupi kenaikan biaya elpiji. Hal ini membuat pelanggan merasa keberatan, sehingga penjualan menurun drastis,” ungkap Ahmad.
Kamis [13/02/2025].
Dampak kelangkaan elpiji juga dirasakan dalam kegiatan persiapan dapur, yang mengakibatkan keterlambatan dalam penyajian menu dan penurunan kualitas pelayanan. Beberapa pedagang bahkan sempat mempertimbangkan untuk menutup usahanya sementara waktu karena merasa tidak mampu bersaing dalam situasi yang tidak menentu ini.
Pemerintah setempat menyatakan bahwa mereka tengah memantau situasi dengan cermat dan sedang mengupayakan solusi agar distribusi elpiji dapat berjalan lebih efektif, khususnya untuk memenuhi kebutuhan sektor usaha kecil. “Kami memahami betapa pentingnya elpiji bagi pelaku usaha mikro. Saat ini, koordinasi dengan ESDM sedang dilakukan untuk mencari alternatif distribusi yang dapat membantu meringankan beban para pedagang,” kata salah satu pejabat dinas terkait di Sidoarjo.
Sementara itu, para pedagang kecil berharap agar solusi segera ditemukan agar usaha mereka tidak semakin terpuruk. “Kami mengharapkan adanya kebijakan prioritas untuk pedagang kecil, sehingga distribusi elpiji tidak lagi menjadi kendala utama dalam operasional usaha kami,” ujar Ahmad.
Dengan situasi yang masih berkembang, masyarakat dan pelaku usaha di Sidoarjo kini menantikan kejelasan serta langkah konkret dari pemerintah untuk mengatasi kelangkaan elpiji, demi menjaga kestabilan perekonomian di tingkat mikro dan menjamin kelangsungan usaha mereka.
[Hito]




