Malang – PratamaNews.Com — Kesenian tradisional Bantengan kini kembali pada pakem aslinya dengan mengedepankan penggunaan musik tradisional gamelan sebagai pengiring utama pertunjukan. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Ki Takim, selaku Pimpinan Padepokan Galogo Djati, dalam wawancara pada kegiatan riset bertajuk “Melacak Nilai Kearifan Lokal dalam Perspektif Akuntansi” yang dilaksanakan pada tanggal 10 Juli 2024.

Dalam keterangannya, Ki Takim menegaskan bahwa penggunaan gamelan bukan sekadar unsur estetika, melainkan bagian penting dari nilai filosofis dan spiritual kesenian Bantengan. Menurutnya, iringan gamelan merepresentasikan harmoni, kebersamaan, serta keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta yang menjadi ruh utama dalam kesenian Bantengan sejak awal kemunculannya.

“Kesenian Bantengan sejatinya lahir dari kearifan lokal masyarakat. Ketika kita kembali menggunakan gamelan, itu artinya kita sedang menjaga identitas, nilai, dan pakem yang diwariskan oleh leluhur,” ujar Ki Takim.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa upaya mengembalikan Bantengan ke pakem aslinya juga merupakan bentuk tanggung jawab budaya di tengah arus modernisasi. Meski terbuka terhadap inovasi, Ki Takim menekankan bahwa inovasi tidak boleh menghilangkan nilai-nilai dasar yang menjadi fondasi kesenian tradisional.

Wawancara ini merupakan bagian dari riset akademik yang bertujuan menggali dan mendokumentasikan nilai-nilai kearifan lokal, termasuk aspek tata kelola, akuntabilitas, dan keberlanjutan kesenian tradisional dalam perspektif akuntansi sosial dan budaya. Hasil riset diharapkan dapat menjadi dasar penguatan pelestarian seni tradisi Bantengan secara berkelanjutan.

Dengan kembalinya kesenian Bantengan pada pakem aslinya, Padepokan Galogo Djati berharap generasi muda tidak hanya menikmati pertunjukan sebagai hiburan, tetapi juga memahami nilai, makna, dan tanggung jawab budaya yang terkandung di dalamnya.

[Yan]