OGAN ILIR || PratamaNews.com ||  Pratamanews.com Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Ogan Ilir menegaskan bahwa fluktuasi harga sejumlah komoditas pangan masih berada dalam batas yang dapat dijangkau masyarakat, meskipun pada periode tertentu terjadi kenaikan harga yang dinilai cukup terasa, dilaksanakan di aula bps ogan ilir Indralaya.

 

“Kepala BPS Kabupaten Ogan Ilir, Sukendro Suryo Wiguno, SST., M.Ec.Dev, menyampaikan bahwa tiga komoditas utama, yakni telur ayam ras, bawang merah, dan cabai rawit, menjadi perhatian dalam pemantauan Indeks Perkembangan Harga (IPH). BPS sendiri berperan dalam memastikan kualitas pendataan harga yang dilakukan di lapangan berjalan sesuai standar operasional prosedur (SOP),jumat (23/01/2026).

 

“yang diwawancarai oleh awak media Data harga dikumpulkan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan di kabupaten/kota, kemudian diolah oleh BPS pusat. Setiap minggu, hasilnya dirilis melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah di Kementerian Dalam Negeri,” jelasnya.

 

“Ia menambahkan, BPS secara konsisten melakukan pendampingan kepada petugas pendata guna menjamin akurasi data. Namun demikian, apabila pendataan telah dilakukan sesuai ketentuan dan harga masih mengalami kenaikan, maka faktor lain seperti ketersediaan stok dan sistem distribusi menjadi penyebab utama.

 

“Dalam koordinasi bersama pemerintah daerah dan instansi terkait, ditemukan bahwa rantai distribusi yang terlalu panjang turut memengaruhi pergerakan harga. Beberapa komoditas dari wilayah Ogan Ilir harus keluar terlebih dahulu ke kawasan Jakabaring sebelum kembali masuk ke pasar-pasar lokal seperti Pasar Indralaya dan Pasar Tanjung Raja.

 

“Apabila jalur distribusi dapat diperpendek dan komoditas langsung masuk ke pasar di Ogan Ilir, maka potensi kenaikan harga bisa ditekan agar tidak terlalu signifikan,” ujarnya.

 

“Sukendro menegaskan bahwa BPS tidak memiliki kewenangan untuk menyampaikan opini atau prediksi terkait kenaikan maupun penurunan harga. Peran BPS adalah memotret kondisi yang telah terjadi dan menyajikannya dalam bentuk data yang objektif dan dapat dipertanggungjawabkan.

 

“Kami menyampaikan data berdasarkan kejadian yang sudah berlangsung, bukan untuk membentuk opini,” pungkasnya.(red)