Pratamanews.com // SIDOARJO // Obrolan santai di warung kopi (warkop) kembali melahirkan gagasan serius. Senin (04/05/2026), Arri Pratama, S.E., S.H., yang juga menjabat sebagai Ketua Pemuda Pancasila PAC Krian, berdiskusi bersama sejumlah pemuda di wilayah Krian terkait maraknya kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pelajar.
Dalam perbincangan yang berlangsung hangat dan penuh keprihatinan itu, Arri menyoroti tingginya angka kecelakaan sepeda motor di kalangan pelajar. Ia menilai, fenomena tersebut tidak bisa dianggap sepele karena menyangkut keselamatan generasi muda sebagai penerus bangsa.
“Beberapa waktu terakhir, kita sering mendengar bahkan melihat langsung kejadian kecelakaan yang melibatkan pelajar. Ini menjadi perhatian serius kita semua,” ujar Arri di sela obrolan.
Arri mengungkapkan bahwa persoalan ini sebelumnya juga menjadi bahan diskusi dalam kegiatan literasi yang digelar di SMA Negeri 1 Krian. Kegiatan tersebut melibatkan Dinas Perhubungan Kabupaten Sidoarjo serta Polsek Krian.
Dalam forum itu, menurut Arri, terungkap bahwa banyak pelajar yang sudah mengendarai sepeda motor meski belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM). Kondisi ini dinilai menjadi salah satu faktor utama penyebab tingginya angka kecelakaan di kalangan usia sekolah.
Berangkat dari keresahan tersebut, Arri mengusulkan solusi konkret kepada pihak sekolah maupun dinas terkait, khususnya Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo. Ia mendorong agar sekolah dapat memfasilitasi program antar-jemput gratis bagi siswa.
“Kalau ada fasilitas antar-jemput, setidaknya kita bisa memastikan siswa berangkat dan pulang dengan aman. Ini juga menjadi langkah preventif agar pelajar yang belum cukup umur tidak mengendarai sepeda motor sendiri,” jelasnya.
Selain itu, Arri juga menekankan pentingnya edukasi sejak dini terkait keselamatan berlalu lintas. Ia mengingatkan bahwa kepemilikan SIM bukan sekadar formalitas, melainkan bukti kesiapan seseorang dalam berkendara di jalan raya.
“Harus ada penegasan bahwa sebelum memiliki SIM, pelajar tidak diperbolehkan mengendarai kendaraan bermotor. Ini demi keselamatan mereka sendiri,” tegasnya.
Lebih jauh, Arri menilai bahwa warkop memiliki peran penting sebagai ruang diskusi informal yang dekat dengan masyarakat. Dari tempat sederhana tersebut, berbagai aspirasi dan ide dapat muncul secara spontan dan jujur.
“Warkop ini bukan hanya tempat ngopi, tapi juga ruang bertukar pikiran. Banyak ide-ide dari masyarakat yang sebenarnya sangat bagus dan layak didengar oleh pemerintah,” ungkapnya.
Ia berharap, hasil diskusi bersama para pemuda tersebut dapat menjadi perhatian serius bagi pemerintah, khususnya di Kabupaten Sidoarjo, dalam merumuskan kebijakan yang berpihak pada keselamatan pelajar.
Menurutnya, sinergi antara masyarakat, sekolah, dan pemerintah sangat dibutuhkan untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas di kalangan generasi muda.
“Ini bukan hanya tanggung jawab satu pihak. Semua harus terlibat. Kalau kita ingin masa depan bangsa ini baik, maka kita harus menjaga generasi mudanya dari sekarang,” pungkas Arri.
Obrolan sederhana di warkop itu pun menjadi bukti bahwa solusi besar bisa lahir dari ruang-ruang kecil, selama ada kepedulian dan komitmen untuk perubahan.
[yuwana]




