BANYUWANGI ||PratamaNews.com|| Kerusuhan hebat pecah dalam laga Semifinal Turnamen Piala Ketua PSSI Banyuwangi antara Persegam Gambiran melawan Desi Banteng FC di Lapangan Maron, Genteng, pada Kamis (28/5/2026). Insiden yang terjadi bahkan sebelum peluit pertama dibunyikan ini telah memakan korban luka-luka dari pihak penonton umum serta menyebabkan kerusakan kendaraan dan fasilitas publik yang cukup parah.

‎Kejadian ini menjadi puncak dari rentetan evaluasi keamanan yang diabaikan oleh pihak panitia penyelenggara sejak laga-laga sebelumnya dan kini di Lapangan Maron. Kelalaian dalam mengantisipasi potensi kerusuhan tersebut kini berujung pada tragedi yang merugikan banyak pihak, terutama masyarakat pecinta sepak bola yang datang untuk menyaksikan pertandingan secara damai.

‎Merespons kejadian tersebut, Aliansi Advokat Banyuwangi Bersatu (AABB) dan Warga Pecinta Sepak Bola Banyuwangi resmi mengambil langkah hukum dengan mendatangi dan membuat laporan pidana ke Kepolisian Resor Kota (Polresta) Banyuwangi. Langkah tegas ini diambil sebagai bentuk perlindungan terhadap ekosistem sepak bola lokal yang terus dirusak oleh aksi premanisme dan kelalaian panitia penyelenggara.

‎Kantor Hukum AABB, Ketua, Raden Bomba Sugiarto, SH., MH., bersama Sekretaris Jenderal Nurul Safi’i, SH., MH., dan Ketua Tim Hukum AABB Edi Susanto, SH., menegaskan bahwa pelaporan ini adalah bentuk ketegasan AABB dan warga sebagai pecinta bola. “Kami tidak akan membiarkan ekosistem sepak bola lokal terus dirusak oleh premanisme dan kelalaian panitia,” ujar mereka dalam keterangan resmi.

‎Dalam berkas laporan yang diserahkan ke Polresta Banyuwangi, AABB menyertakan bukti-bukti digital berupa rekaman video kekerasan, bukti fisik kerugian, serta mendorong penerapan pasal berlapis terhadap para pelaku dan pihak yang bertanggung jawab. Nurul Safi’i, SH., MH., saat diwawancarai menjelaskan bahwa korban luka berat dan ringan diperkirakan lebih dari sepuluh orang yang masih dalam proses visum di RSUD Banyuwangi.

‎Nurul Safi’i menyayangkan sikap penyelenggara yang kurang memperhatikan aspek keamanan pertandingan. “Ini bukan pertama kalinya terjadi insiden di Lapangan Maron. Seharusnya panitia sudah mengantisipasi dengan koordinasi keamanan yang lebih ketat, namun kenyataannya mereka abai terhadap keselamatan penonton,” tegasnya dengan nada kecewa.

‎Kerusuhan yang terjadi sebelum kick-off ini diduga dipicu oleh bentrokan antar suporter kedua tim yang sudah memanas sejak di luar stadion. Aksi saling lempar batu, perusakan kendaraan, dan perkelahian massal terjadi di beberapa titik sekitar lokasi pertandingan. Aparat kepolisian yang berjaga terlihat kewalahan mengendalikan massa yang sudah tidak terkendali.

‎Hingga berita ini diturunkan, pihak Polresta Banyuwangi telah menerima laporan resmi dari AABB dan menyatakan akan menindaklanjuti kasus ini secara serius. Sementara itu, pihak panitia penyelenggara Piala Ketua PSSI Banyuwangi Michael Edy Hariyanto belum memberikan keterangan resmi terkait insiden kerusuhan yang memalukan ini. Masyarakat Banyuwangi kini menanti tindakan tegas dari aparat penegak hukum untuk memberikan efek jera kepada para pelaku kerusuhan dan pihak-pihak yang lalai dalam menjaga keamanan pertandingan. (Tiem)