BANYUWANGI || PratamaNews.com || Digitalisasi tradisi bukan hanya pilihan, tapi kebutuhan zaman. Itulah pesan utama yang digaungkan Elvin Hendratha saat tampil sebagai pembicara dalam sesi keempat Lokakarya Penulisan Sastra dan Pembuatan Karya Inovatif Berbasis Tradisi Lisan dan Manuskrip yang digelar di Mini Bioskop, Lantai 3, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi, Kamis (29/5/2025).
Elvin, seniman sekaligus pembina Seni Tari dan Musik Joyo Karyo, membuka wacana baru dalam dunia seni dan budaya Banyuwangi. Ia mengangkat tema “Digitalisasi Produk Industri Kreatif Berbasis Tradisi Lisan dan Manuskrip”, yang dianggap relevan dengan kebutuhan pelestarian budaya di era teknologi.
“Transformasi digital mengubah cara kita menyimpan, mengelola, dan menyebarkan informasi budaya. Tradisi lisan dan manuskrip bisa menjadi konten kreatif yang tidak hanya lestari, tetapi juga menginspirasi generasi baru,” ujar Elvin di hadapan puluhan peserta yang terdiri dari sastrawan, guru, pelajar, akademisi, hingga pegiat budaya.
Dalam pemaparannya, Elvin membeberkan contoh konkret digitalisasi budaya, mulai dari dokumentasi ritual Seblang Bakungan, rekaman suara maestro tradisi, hingga pemindaian manuskrip lokal ke dalam bentuk digital yang bisa diakses publik. Menurutnya, platform digital seperti YouTube, podcast, atau arsip daring lainnya membuka peluang baru untuk eksistensi seni dan budaya lokal.
“Kalau dulu kita hanya bisa menonton Seblang di desa-desa tertentu, kini dengan teknologi, orang dari berbagai belahan dunia bisa menyaksikannya. Ini bukan sekadar dokumentasi, tapi juga diplomasi budaya,” tegasnya.
Tak hanya menyoroti aspek teknis, Elvin juga menekankan pentingnya mentalitas adaptif dalam menghadapi perkembangan zaman. “Seni dan budaya tidak bisa terus-menerus tinggal di panggung konservatif. Ia harus mampu menyesuaikan diri dengan cara hidup generasi digital-native agar tetap relevan,” ucapnya.
Lokakarya ini sendiri merupakan inisiatif kolaboratif antara HISKI Pusat, HISKI Komisariat Banyuwangi, Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA), Dana Indonesiana, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Dewan Kesenian Blambangan (DKB), dan Untag Banyuwangi. Program ini bertujuan menguatkan daya hidup budaya lokal melalui peningkatan kapasitas pelaku seni dan sastra dalam memproduksi karya inovatif berbasis kearifan lokal.
Ketua HISKI Komisariat Banyuwangi, Dr. Wiyatmi, menyebut sesi ini sebagai salah satu yang paling visioner. “Kami ingin pelaku budaya tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dengan mengoptimalkan teknologi. Digitalisasi adalah jembatan yang memungkinkan warisan leluhur tetap hidup dalam narasi masa depan,” katanya.
Para peserta mengapresiasi sesi yang dinilai inspiratif dan aplikatif ini. Dini Ayu, guru Bahasa Indonesia dari sebuah SMA di Banyuwangi, mengaku tercerahkan. “Selama ini kami hanya berpikir soal pelestarian secara fisik. Ternyata digitalisasi bisa menjadi strategi pelestarian yang lebih luas jangkauannya,” tuturnya.
Melalui sesi ini, HISKI berharap tercipta gerakan kolektif dari pelaku budaya untuk tidak hanya merawat warisan tradisi, tetapi juga memodernkannya dengan pendekatan digital. Dengan demikian, budaya Banyuwangi tak hanya dikenang, tetapi juga hidup, tumbuh, dan dikenal di panggung global.



