Pratamanews.Com – Kediri – Minggu [30/03/2025], Malam takbiran di Kediri Selatan, khususnya di Kecamatan Kandat, telah mengalami perubahan budaya yang signifikan dalam beberapa dekade terakhir. Tradisi yang dahulu didominasi oleh suara bedug dan lantunan takbir secara konvensional, kini bergeser ke tren baru yang dikenal sebagai “sound horeg.”
Sound horeg adalah fenomena yang muncul di kalangan anak muda dan komunitas di Kediri, di mana takbiran dikumandangkan dengan menggunakan sistem suara bertenaga besar, lengkap dengan pencahayaan yang megah. Tradisi ini mulai berkembang sejak tahun 2012 dan terus mengalami peningkatan popularitas.
Menurut Bela Monica Dewi, salah satu warga Kediri Selatan yang aktif mengikuti perkembangan budaya ini, tren sound horeg sudah menjadi bagian dari perayaan malam takbiran selama lebih dari satu dekade. “Sound horeg sudah menjadi tren yang berlangsung lama, berawal di tahun 2012 hingga saat ini. Namun, tren ini sempat meredup karena pandemi COVID-19,” ungkapnya.
Meskipun sempat mengalami penurunan akibat pembatasan sosial selama pandemi, tren ini kembali bangkit setelah situasi membaik. Kini, berbagai komunitas sound system di Kediri kembali mengadakan pawai takbiran dengan perlengkapan audio yang semakin canggih.
Dampak Positif dan Negatif
Perubahan budaya takbiran ini tentu membawa dampak yang beragam. Dari sisi positif, tradisi sound horeg dianggap mampu menarik minat generasi muda untuk tetap terlibat dalam perayaan malam takbiran. Teknologi audio yang digunakan juga menciptakan suasana yang lebih semarak dan meriah, mempererat kebersamaan di antara masyarakat.
Namun, di sisi lain, penggunaan sound system berdaya tinggi juga menimbulkan kontroversi, terutama terkait tingkat kebisingan yang bisa mengganggu warga sekitar. Beberapa kelompok masyarakat masih mempertanyakan apakah penggunaan sound horeg tetap mampu menjaga kekhidmatan takbiran atau justru menggeser nilai-nilai spiritual dari perayaan tersebut.
“Yang penting adalah bagaimana kita bisa menyesuaikan budaya modern dengan tetap menjaga esensi dari malam takbiran itu sendiri,” tambah Bela Monica Dewi.
Meski demikian, tradisi ini tampaknya akan terus berkembang seiring dengan perubahan zaman. Bagi masyarakat Kediri Selatan, terutama di Kecamatan Kandat, takbiran dengan sound horeg bukan hanya sekadar tren, tetapi juga bentuk ekspresi budaya yang menggambarkan semangat dan kreativitas generasi saat ini.
[Lfa]




