Pratamnews.Com – Sidoarjo – Senin [31/03/2025], Perayaan Idulfitri di berbagai wilayah Jawa Timur selalu diwarnai dengan tradisi khas masing-masing daerah. Salah satu tradisi yang masih lestari hingga kini adalah menyalakan petasan berukuran besar setelah salat Id. Bagi sebagian masyarakat, tradisi ini menjadi bagian dari kemeriahan Lebaran, tetapi bagi yang lain, hal ini justru menimbulkan keresahan.

Membakar petasan setelah salat Id bukanlah hal baru bagi masyarakat di beberapa daerah di Jawa Timur. Tradisi ini telah diwariskan dari generasi ke generasi dan dianggap sebagai simbol kegembiraan serta cara untuk menyemarakkan hari raya. Banyak warga yang menganggap suara ledakan petasan sebagai penanda kemeriahan dan suasana kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa sebulan penuh.

Ungkapan “Gorong Lebaran lak gorong nyumet mercon” yang sering terdengar di masyarakat Jawa Timur mencerminkan kebiasaan bahwa perayaan Idulfitri terasa kurang lengkap tanpa menyalakan petasan. Frasa ini menunjukkan bagaimana petasan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tradisi Lebaran di beberapa daerah.

Imam seorang warga di Sidogiri, Pasuruan, yang dikenal sebagai salah satu daerah dengan tradisi petasan terbesar, mengatakan bahwa setiap tahun mereka selalu membuat petasan dengan ukuran besar. “Ini sudah jadi tradisi di kampung kami. Kalau Lebaran tanpa petasan, rasanya ada yang kurang,” ujarnya.

Di sisi lain, banyak pula masyarakat yang merasa terganggu dengan suara petasan yang sangat keras. Selain mengganggu kenyamanan, petasan juga sering kali menyebabkan kerusakan dan sampah di lingkungan sekitar.

Seorang warga di Sedati, Sidoarjo, Bapak Suyono, mengungkapkan kekecewaannya karena halaman rumahnya penuh dengan sisa kertas dari petasan yang diledakkan oleh warga sekitar. “Setiap tahun pasti seperti ini. Setelah petasan meledak, rumah saya penuh dengan sampah kertas. Bahkan, suara ledakannya sampai merusak rombong dagangan saya,” ujarnya.

Selain itu, suara ledakan yang sangat keras juga berpotensi mengganggu kenyamanan lansia, anak-anak, serta orang yang memiliki gangguan kesehatan tertentu.

Tradisi menyalakan petasan di Indonesia diyakini berasal dari budaya Tionghoa yang diperkenalkan oleh para pedagang dan perantau sejak ratusan tahun lalu. Dalam budaya Tionghoa, petasan digunakan untuk mengusir roh jahat dan menyambut keberuntungan. Seiring berjalannya waktu, tradisi ini diadaptasi oleh masyarakat lokal dan menjadi bagian dari perayaan hari-hari besar, termasuk Idulfitri.

Meskipun telah menjadi bagian dari tradisi, penggunaan petasan di beberapa daerah sebenarnya telah diatur oleh peraturan pemerintah. Beberapa daerah bahkan melarang petasan yang berukuran besar demi menjaga ketertiban dan keselamatan masyarakat.

Tradisi menyalakan petasan setelah salat Id terus menjadi perdebatan di masyarakat. Bagi yang pro, ini adalah bagian dari budaya dan harus tetap dijaga. Namun, bagi yang kontra, dampak negatifnya terlalu besar dan bisa membahayakan banyak orang.

Sebagai solusi, banyak pihak menyarankan agar penggunaan petasan bisa lebih dikontrol, misalnya dengan hanya menggunakan petasan berukuran kecil atau mengganti dengan alternatif lain seperti kembang api yang lebih aman dan ramah lingkungan.

Apakah tradisi petasan ini akan terus bertahan atau lambat laun ditinggalkan? Semua kembali pada kesadaran masyarakat dalam menjaga keseimbangan antara tradisi dan kenyamanan bersama.

 

[Ew]