Pratamanews.Com – Banyuwangi – Kecelakaan tunggal yang merenggut nyawa seorang pelajar kembali terjadi di jalur ekstrem menuju Kawah Ijen. Seorang pelajar perempuan berusia 18 tahun asal Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, meninggal dunia setelah sepeda motor yang dikendarainya mengalami rem blong saat menuruni jalur curam pada Senin (7/4/2025) sore.
Peristiwa tragis ini terjadi di turunan tajam kawasan Sangkan Selamet, sebuah titik yang dikenal rawan kecelakaan di jalur Paltuding menuju Kawah Ijen. Saat kejadian, korban yang berinisial ADH (18), sedang mengendarai sepeda motor Honda Vario bersama seorang temannya. Keduanya baru saja turun dari area Paltuding, yang merupakan pos awal pendakian Kawah Ijen.
Menurut keterangan saksi mata dan pihak kepolisian, sepeda motor yang ditumpangi dua pelajar perempuan tersebut diduga mengalami rem blong saat melintasi jalan menurun dengan kemiringan yang cukup curam. Akibatnya, kendaraan kehilangan kendali dan akhirnya menabrak pembatas jalan di sisi kanan.
“Pengendara tidak mampu mengendalikan motornya karena diduga rem tidak berfungsi dengan baik. Mereka melaju cukup cepat dari arah atas, lalu menabrak pembatas jalan di turunan Sangkan Selamet,” ujar salah satu petugas kepolisian dari Polsek Licin yang menangani kejadian tersebut.
Korban yang dibonceng mengalami luka-luka dan segera dievakuasi oleh warga setempat ke Puskesmas Licin untuk mendapatkan perawatan medis. Sementara ADH, sang pengendara, mengalami luka parah di bagian kepala dan tubuhnya. Nyawanya tidak tertolong dan korban dinyatakan meninggal di lokasi kejadian. Jenazahnya kemudian dievakuasi ke RSUD Blambangan, Banyuwangi, untuk proses identifikasi dan penanganan lebih lanjut oleh pihak keluarga.
Kecelakaan ini menambah panjang daftar insiden tragis yang terjadi di jalur menuju Kawah Ijen. Jalur ini memang dikenal memiliki medan berat, dengan tanjakan dan turunan ekstrem, tikungan tajam, serta minimnya pengaman jalan di beberapa titik rawan.
Kepolisian mengingatkan bahwa selain masalah teknis pada kendaraan, faktor kelalaian pengendara dan kurangnya kehati-hatian juga berkontribusi besar terhadap terjadinya kecelakaan.
“Jalur Kawah Ijen bukan hanya indah, tetapi juga berbahaya. Kami selalu mengingatkan pengendara untuk lebih berhati-hati, terutama saat turun dari kawasan Paltuding. Cek kendaraan sebelum naik, terutama kondisi rem dan ban,” tegas petugas.
Selain itu, faktor cuaca dan visibilitas yang sering berubah-ubah juga menjadi tantangan tersendiri bagi para pengendara, terutama di sore hari menjelang malam, di mana kabut kerap turun dan mengurangi jarak pandang.
Kecelakaan yang merenggut nyawa ADH menyisakan duka mendalam bagi keluarga dan kerabat korban. Rencana kegiatan wisata yang seharusnya menjadi momen menyenangkan justru berubah menjadi tragedi.
Pihak kepolisian juga menyatakan akan terus melakukan penyelidikan dan mengumpulkan keterangan tambahan dari saksi maupun korban yang selamat, guna mengetahui secara pasti kronologi dan penyebab utama kecelakaan.
Sementara itu, pihak berwenang setempat kembali mengimbau kepada para pengunjung dan wisatawan yang hendak menuju Kawah Ijen agar selalu waspada dan mengutamakan keselamatan. Pemeriksaan rutin kendaraan sebelum naik atau turun gunung sangat disarankan, terutama mengingat jalur ini kerap digunakan oleh wisatawan yang mungkin belum terbiasa dengan kondisi jalan pegunungan.
Pemerintah daerah juga diharapkan dapat memperhatikan aspek keselamatan di jalur-jalur wisata berisiko tinggi, seperti dengan menambah rambu-rambu peringatan, memasang pembatas jalan yang lebih kokoh, serta memperbaiki infrastruktur di titik-titik rawan kecelakaan.
Tragedi ini menjadi pengingat bahwa keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama, terlebih ketika melintasi daerah pegunungan dengan kontur jalan yang menantang seperti di kawasan Kawah Ijen.
[Redaksi Pratamanews.Com]




