Pratamanews.Com – SIDOARJO — Sebanyak 51 pengusaha tahu di Desa Tropodo, Kecamatan Krian, akhirnya menyatakan komitmen untuk tidak lagi menggunakan bahan bakar berbahaya dan beracun (B3) dalam proses produksi mereka. Komitmen itu dituangkan secara resmi dalam penandatanganan kesepakatan bersama yang digelar di Balai Desa Tropodo, Rabu (15/5) malam.
Langkah ini menjadi titik balik penting dalam perjuangan mengatasi pencemaran udara akibat pembakaran limbah industri, seperti spon dan karet, yang selama ini digunakan sebagai bahan bakar oleh sejumlah pengusaha tahu di wilayah tersebut.
Kesepakatan itu merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sidoarjo tertanggal 2 Mei 2025, dengan nomor 600.4/603/438.5.11/2025, yang secara tegas melarang penggunaan limbah B3 dalam aktivitas produksi rumahan.
Ancaman Global, Dampak Lokal
Sekretaris Daerah Sidoarjo, Fenny Apridawati, menekankan bahwa larangan ini bukan hanya sekadar imbauan administratif. Dalam sambutannya di hadapan para pelaku usaha, Fenny mengingatkan bahwa dampak dari pembakaran B3 bisa menjalar hingga ke isu internasional.
“Ini bukan hanya urusan kesehatan lokal. Kalau praktik ini terus berlangsung, negara-negara luar bisa memboikot kerja sama atau bantuan kepada Indonesia. Jadi, apa yang panjenengan lakukan di sini, efeknya bisa sampai ke citra bangsa,” ujarnya dengan nada tegas.
Ia mengajak para pengusaha untuk ikut menjaga hak bersama: udara bersih. Menurutnya, udara yang tercemar tak hanya merugikan warga sekitar, tapi juga generasi mendatang.
“Udara segar kita nikmati bersama, udara kotor juga kita hirup bersama. Ini tanggung jawab kolektif,” imbuh Fenny, yang disambut anggukan sejumlah pengusaha yang hadir.
Pendekatan Humanis, Usaha Tetap Jalan
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo, Bahrul Amig, menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin mematikan roda perekonomian warga.
“Kami sadar betul, produksi tahu ini adalah penghidupan utama banyak keluarga di Tropodo. Karena itu, pendekatan kami adalah humanis. Ekonomi tetap harus jalan, tapi lingkungan juga harus aman,” katanya.
Amig menjelaskan bahwa limbah seperti spon, karet, atau bahan plastik tergolong sebagai bahan B3 yang jika dibakar, bisa menghasilkan zat-zat berbahaya, termasuk dioksin dan furan, yang berpotensi merusak paru-paru, sistem reproduksi, bahkan memicu kanker.
“Kami tidak ingin dulur-dulur di sini jadi korban karena tidak taat aturan. Jangan sampai nanti berurusan dengan hukum hanya karena masih nekat pakai B3. Mari jaga usaha panjenengan supaya tetap hidup, tapi juga bersih dan aman,” tandasnya.
Tantangan dan Harapan
Selama ini, alasan ekonomis menjadi pemicu utama para pengusaha tahu menggunakan limbah B3. Harga bahan bakar alternatif seperti gas atau kayu bakar dinilai jauh lebih mahal dibandingkan limbah industri. Namun, kesadaran perlahan mulai tumbuh, seiring dengan meningkatnya tekanan dari masyarakat dan perhatian pemerintah.
Salah satu pengusaha tahu yang ikut menandatangani komitmen, Rofi’i (47), mengaku siap beralih ke bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Meski begitu, ia berharap ada dukungan konkret dari pemerintah agar transisi ini tidak memberatkan.
“Kalau bisa kami dibantu akses bahan bakar yang murah tapi aman, ya kami pasti ikut aturan. Wong kita juga khawatir lihat asap hitam dari tungku, anak-anak juga ikut hirup,” ucapnya.
Ke depan, DLHK Sidoarjo berencana melakukan pendampingan langsung kepada para pengusaha dalam penggunaan bahan bakar alternatif dan peningkatan teknologi pembakaran. Edukasi juga akan diperluas hingga ke tingkat RT dan RW, agar masyarakat lebih aktif mengawasi lingkungan mereka sendiri.
Sidoarjo Menuju Langit Biru
Komitmen 51 pengusaha tahu Tropodo ini bisa menjadi contoh bagi daerah lain yang menghadapi dilema serupa: antara menjaga roda ekonomi dan merawat lingkungan. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo berharap, upaya ini dapat membuka jalan menuju langit yang lebih bersih, udara yang lebih sehat, dan masyarakat yang lebih peduli.
“Ini bukan akhir. Ini awal dari perubahan. Kita ingin Sidoarjo dikenal bukan karena asap, tapi karena komitmen warganya menjaga bumi,” pungkas Fenny Apridawati.
[Ew/FLa]




