BANYUWANGI  || PeatamaNews.com ||  Pentingnya menghadirkan budaya lokal dalam pembelajaran sastra kembali ditegaskan dalam sesi keempat Lokakarya Penulisan Kreatif Sastra dan Pembuatan Produk Kreatif Berbasis Tradisi Lisan dan Manuskrip di Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Banyuwangi.

 

Dr. Tengsoe Tjahjono, M.Pd., dosen sekaligus pegiat literasi, hadir sebagai pemateri dengan membawakan topik “Kontekstualisasi Tradisi Lisan dan Pengembangan Kreativitas dalam Pembelajaran Sastra.” Dalam paparannya, ia mendorong penggunaan tradisi lisan sebagai bahan ajar yang inspiratif dan kontekstual di sekolah.

 

“Tradisi lisan perlu diolah menjadi media belajar yang membangkitkan imajinasi dan empati,” ujar Dr. Tengsoe. Ia mengusulkan pendekatan project-based learning untuk menghidupkan kembali cerita rakyat, legenda, dan petuah lisan melalui karya seperti puisi, cerpen, video naratif, hingga podcast.

 

Respons peserta yang terdiri dari guru, mahasiswa, dan komunitas literasi sangat antusias. Diskusi berjalan interaktif dengan banyak gagasan praktis untuk mengintegrasikan budaya lokal ke ruang kelas.

 

Lokakarya ini merupakan hasil kolaborasi HISKI Pusat, Dana Indonesiana, LPDP, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Dewan Kesenian Blambangan, MANASSA, dan HISKI Komisariat Banyuwangi. Kegiatan ini menjadi bagian dari Festival Banyuwangi 2025 bertema “Banyuwangi Kolo Semono.”

 

Ketua HISKI Pusat dalam sambutannya menegaskan pentingnya pelestarian budaya yang adaptif. Ia mengajak para sastrawan dan pegiat budaya untuk mendigitalisasi dan menghidupkan kembali tradisi lisan dan manuskrip sebagai warisan literasi bangsa.

 

Sesi keempat ini mempertegas bahwa sastra bukan sekadar teks, melainkan jembatan kreatif antara generasi muda dan akar budayanya.