Sidoarjo – Isu kontroversial yang sempat mencuat beberapa hari terakhir terkait kerja sama antara Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Sidoarjo dengan media lokal dipastikan hanya merupakan kesalahpahaman. Pihak Lapas menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat keterbukaan informasi publik dan mendekatkan lembaga pemasyarakatan dengan masyarakat.

Kepala Lapas Kelas IIA Sidoarjo, Bapak Disri Wulan Agus Tomo, menjelaskan bahwa kemitraan dengan media lokal memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi secara lebih tepat sasaran sesuai karakteristik demografis masyarakat sekitar.

“Kolaborasi antara Lapas, media lokal, dan masyarakat sangat diperlukan agar informasi yang disampaikan tidak hanya relevan, tetapi juga membangun pemahaman publik yang benar terhadap tugas dan fungsi Lapas,” ujarnya.

Menurutnya, media lokal memiliki posisi strategis dalam membangun kedekatan emosional dengan komunitas melalui pemberitaan yang membumi, menyentuh realitas sosial, serta mampu mengedukasi masyarakat.

Kebijakan ini, lanjut Kalapas, juga merupakan bagian dari pelayanan publikasi yang bertujuan untuk menunjukkan kontribusi Lapas dalam menjalankan program pembinaan dan reintegrasi sosial bagi warga binaan.

“Keterlibatan media lokal membuat pesan-pesan pembinaan tersampaikan secara utuh. Ini sejalan dengan semangat reformasi birokrasi yang menjunjung tinggi transparansi dan akuntabilitas,” imbuhnya.

Salah satu jurnalis media lokal yang tergabung dalam Kelompok Kerja (Pokja) Media Lapas Sidoarjo, Muhammad Akbar Ali, menyampaikan apresiasi atas keterbukaan Kalapas dan jajarannya dalam menggandeng media lokal secara aktif.

“Kami sangat mengapresiasi langkah Kalapas Disri Wulan Agus Tomo yang telah memberi ruang kepada media lokal untuk terlibat dalam penyampaian informasi. Ini membuktikan bahwa Lapas Sidoarjo peduli terhadap eksistensi media di daerah, sekaligus ingin meningkatkan kualitas penyebaran informasi kepada publik,” ucapnya saat diwawancarai, Minggu (13/06/2025).

Akbar juga menilai, keterlibatan media lokal tidak hanya membantu menyebarluaskan informasi resmi dari lembaga, tetapi juga berdampak positif terhadap kualitas jurnalistik daerah.

“Dengan akses langsung terhadap narasumber dan data yang valid, berita yang kami sajikan menjadi lebih akurat, berimbang, dan tidak menyesatkan. Hal ini tentu penting bagi kepercayaan publik terhadap informasi yang beredar,” jelasnya.

Ia pun mengimbau kepada rekan-rekan jurnalis lainnya agar tetap mengedepankan profesionalisme dan etika jurnalistik, meskipun belum tergabung dalam pokja media Lapas.

“Bagi teman-teman media yang belum bisa bergabung, saya harap tetap legowo dan bersabar. Yang terpenting adalah menjaga integritas jurnalistik. Wartawan harus mengonfirmasi langsung kepada narasumber, memastikan data yang disampaikan benar dan tidak bersifat provokatif. Jangan sampai kita ikut menyebarkan hoaks atau fitnah,” tegasnya.

Kerja sama antara Lapas Sidoarjo dan media lokal ini diharapkan dapat menjadi model sinergi yang efektif antara lembaga negara dan insan pers dalam menciptakan ekosistem informasi yang sehat, transparan, dan konstruktif demi kepentingan publik.

[Hito/Tiem]