PratamaNews.com – Fenomena musim kemarau basah sedang terjadi di Indonesia, di mana curah hujan masih tinggi meskipun seharusnya sudah memasuki musim kemarau. (30 Juni 2025)

Hujan ternyata masih sering turun, bahkan melebihi batas normal musim kemarau yang biasanya ditandai dengan cuaca kering dan panas.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kondisi ini akan berlangsung hingga Agustus 2025 di sebagian besar wilayah Indonesia.

Setelah itu, masyarakat akan memasuki masa transisi (pancaroba) pada September-November, sebelum musim hujan kembali tiba pada Desember 2025 hingga Februari 2026.

Fenomena kemarau basah ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah suhu permukaan laut yang lebih hangat dari biasanya di sekitar wilayah Indonesia.

Hal ini mengakibatkan peningkatan penguapan dan pembentukan awan hujan, sehingga meskipun dalam musim kemarau, hujan tetap terus turun.

Selain itu, angin monsun yang seharusnya melemah pada musim kemarau, masih aktif membawa uap air, ikut berkontribusi pada curah hujan yang tinggi.

Namun, perlu dicatat bahwa meskipun disebut “kemarau basah”, intensitas hujan bisa bervariasi dan tidak selalu merata di semua wilayah.

Kemarau basah memiliki beragam dampak, terutama pada sektor pertanian. Gangguan pada jadwal tanam dan potensi gagal panen bisa terjadi, khususnya pada tanaman yang sensitif terhadap air seperti palawija.

Di sisi lingkungan, kelembaban tanah yang meningkat bisa menimbulkan risiko banjir lokal atau genangan air, terutama di daerah dengan sistem drainase yang kurang baik.

Dari segi kesehatan, kondisi lembap akibat kemarau basah dapat memicu penyebaran hama dan penyakit tanaman, serta meningkatkan risiko penyakit yang berhubungan dengan kelembaban bagi masyarakat.

BMKG terus memantau perkembangan cuaca dan siap memberikan informasi terbaru terkait fenomena ini.

Secara umum, kemarau basah adalah fenomena anomali cuaca yang disebabkan oleh berbagai faktor dan memiliki dampak yang perlu diperhatikan, terutama di sektor pertanian dan lingkungan. Masyarakat diimbau untuk selalu waspada dan mengambil langkah-langkah bijak menghadapi kondisi ini. (Red)