BANYUWANGI  || Pratama news.com ||  Di balik layar daring yang terbuka sejak pagi hingga senja, 31 Agustus 2025, kata-kata kembali menjelma menjadi jembatan waktu. Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) bersama Dana Indonesiana dan LPDP mempertemukan 31 jiwa kreatif dalam presentasi Produk Alih Wahana Sastra. Mereka bukan sekadar peserta, melainkan peziarah tradisi yang berusaha menyalakan kembali api yang diwariskan dari manuskrip dan tutur lama.

 

Forum ini dibuka dengan kesadaran: sastra tak boleh berhenti di halaman kuno atau di bibir para penutur. Ia mesti menemukan rumah baru, menjelma dalam rupa berbeda, tanpa kehilangan jiwa. Moderator Sudartomo Macaryus, M.Hum., menegaskan: “Ini bukan sekadar ruang presentasi, melainkan panggung evaluasi dan pengayaan.” Seperti sebuah sungai, karya-karya yang mengalir hari itu mengandung arus masa lalu yang hendak bermuara pada samudera masa kini.

 

Para reviewer – Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum., Dr. Tengsoe Tjahjono, dan Dr. M. Yoesoef, M.Hum. – menjadi penjaga mercusuar. Mereka memberi cahaya pada arah kreativitas, agar para pengarang tidak tersesat antara warisan dan tuntutan zaman.

 

Kilasan perjalanan lokakarya sebelumnya, 28–29 Mei 2025, menjadi fondasi cerita ini. Saat itu, Dr. Munawar Holil membuka cakrawala dengan memandang manuskrip sebagai sumur tak kering bagi kreativitas. Dr. Pudentina menegaskan tradisi lisan sebagai akar yang tak boleh diputus. Suara-suara lain—Dr. Tengsoe Tjahjono, Dr. Yeni Artanti, Drs. Hasan Basri, hingga Elvin Hendrata—merangkai benang merah: dari manuskrip, dari lisan, dari seni tradisi, hingga dunia digital yang terus menuntut bentuk baru.

 

Hari ini, benang merah itu ditenun. Di tangan para peserta, hikayat lama dipoles menjadi naskah modern, dongeng ditransformasikan menjadi konten kreatif, bahkan manuskrip kuno bernafas kembali dalam medium digital. Semua ini, sebagaimana ditegaskan Ketua HISKI Komisariat Banyuwangi, Nurul Ludfia Rochmah, S.Pd., M.Pd., adalah mata rantai menuju perhelatan yang lebih besar: Gelar Karya dan Saresehan Budaya, 24 September 2025, beriringan dengan Pameran Banyuwangi Tempo Doeloe dalam rangkaian Banyuwangi Festival.

 

HISKI, dengan segala langkahnya, tengah mengajarkan bahwa tradisi bukan benda mati di museum waktu. Ia adalah tubuh hidup, yang bisa berjalan, menari, bahkan berbicara dengan bahasa zaman. Dengan alih wahana, sastra tidak lagi terkungkung pada lembaran atau ingatan, melainkan hadir sebagai denyut kontemporer yang menyapa generasi baru.

 

Maka, dari manuskrip hingga layar digital, dari tuturan kuno hingga ruang virtual, sastra Indonesia menemukan jalannya: tetap setia pada akar, namun tumbuh ke arah cahaya masa depan