Pratamanews.com

Musim hujan ekstrem kembali melanda berbagai wilayah di Indonesia. Curah hujan tinggi yang terjadi dalam waktu singkat bukan hanya memicu genangan dan banjir.

Lebih dari itu, hal ini juga memperparah dampaknya akibat persoalan klasik: sampah yang menumpuk dan menyumbat saluran air. Fenomena ini kerap terjadi di berbagai daerah, termasuk kawasan padat penduduk dan perkotaan. Ketika hujan deras turun tanpa henti.

Sampah plastik, limbah rumah tangga, dan material lainnya terbawa arus lalu menyumbat drainase, sungai, hingga gorong-gorong. Akibatnya, air meluap dan menggenangi permukiman warga.

Sampah yang dibuang sembarangan akan terkumpul di saluran air. Saat hujan ekstrem terjadi, volume air meningkat drastis, sementara alirannya terhambat. Inilah penyebab utama banjir di banyak wilayah.

Genangan air yang tercemar sampah menjadi tempat berkembang biaknya bakteri dan nyamuk. Penyakit seperti diare, leptospirosis, hingga demam berdarah lebih mudah menyebar di lingkungan yang kotor dan lembap.

Banjir akibat saluran tersumbat dapat merusak jalan, jembatan, rumah warga, hingga fasilitas umum. Selain itu, aktivitas ekonomi masyarakat juga terganggu, terutama bagi pelaku usaha kecil yang terdampak langsung.

Sampah plastik yang hanyut ke sungai akhirnya bermuara ke laut. Ini memperparah pencemaran laut dan mengancam ekosistem perairan serta biota laut.

Banyak pihak menilai bahwa banjir di musim hujan ekstrem bukan semata-mata disebabkan oleh tingginya curah hujan. Faktor perilaku manusia turut berperan besar. Kebiasaan membuang sampah sembarangan, minimnya kesadaran memilah sampah, serta kurang optimalnya pengelolaan limbah menjadi pemicu utama.

Di beberapa daerah, sistem drainase sebenarnya telah dibangun dengan kapasitas memadai. Namun, ketika dipenuhi sampah, fungsinya tidak berjalan maksimal. Hal ini membuktikan bahwa persoalan lingkungan tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga kedisiplinan masyarakat.

Untuk meminimalisir dampak buruk tersebut, beberapa langkah berikut dapat diterapkan, seperti disiplin membuang sampah pada tempatnya. Melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik. Mengadakan kerja bakti rutin membersihkan selokan dan lingkungan.

Mendorong pemerintah meningkatkan sistem pengelolaan sampah terpadu. Serta edukasi lingkungan sejak dini di sekolah dan komunitas.

Kesadaran kolektif menjadi kunci utama. Hujan ekstrem memang sulit dihindari, tetapi dampaknya bisa diminimalkan jika lingkungan tetap bersih dan saluran air berfungsi dengan baik.

Musim hujan seharusnya menjadi pengingat bahwa menjaga kebersihan lingkungan bukan sekadar kewajiban pribadi, melainkan tanggung jawab bersama.

Jika persoalan sampah terus diabaikan, maka setiap musim hujan ekstrem akan selalu menghadirkan ancaman yang sama—bahkan lebih parah.

Mencegah banjir tidak selalu membutuhkan proyek besar. Terkadang, langkah sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan sudah menjadi kontribusi nyata bagi keselamatan banyak orang.