BANYUWANGI  || PratamaNews.com ||  Sekretaris Inspektorat Jenderal (Ses Itjen) Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas), Ika Yusanti, memberikan apresiasi tinggi terhadap transformasi signifikan yang terjadi di lahan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Paswangi milik Lapas Kelas IIA Banyuwangi. Dalam kunjungan kerjanya, Ika mendorong optimalisasi lahan tersebut sebagai pilar utama dalam membangun kemandirian warga binaan.

 

Dalam peninjauan yang dilakukan pada Selasa (24/3), Ika Yusanti melihat langsung geliat berbagai lini pembinaan yang tengah berkembang di SAE Paswangi. Mulai dari sektor pertanian, perikanan, pengelolaan kafe, hingga budidaya maggot, seluruh kegiatan tersebut menunjukkan dinamika positif dalam proses pembinaan di Lapas Banyuwangi.

 

Menurut Ika, keberagaman aktivitas di SAE Paswangi menjadi bukti nyata bahwa pembinaan warga binaan kini tidak hanya berfokus pada aspek moral dan disiplin, tetapi juga pada peningkatan keterampilan dan produktivitas. “SAE Paswangi ini memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan lebih jauh guna mendukung program kemandirian bagi warga binaan,” ujarnya.

 

Ia menilai, kualitas lahan SAE Paswangi sangat mendukung untuk pengembangan berbagai komoditas unggulan, baik di bidang pertanian maupun perikanan. Selain faktor kesuburan tanah, lokasi yang strategis dengan aksesibilitas yang mudah menjadi nilai tambah dalam proses distribusi hasil panen maupun kegiatan edukasi masyarakat.

 

Catatan keberhasilan panen berkali-kali di lahan tersebut menjadi bukti empiris bahwa kawasan ini sangat layak dijadikan percontohan nasional. “Lokasinya yang strategis dan keberhasilan panen yang sudah terbukti memperlihatkan bahwa lahan ini sangat potensial untuk dioptimalkan sebagai sarana pembinaan yang berdampak nyata,” tambah Ika.

 

Menanggapi hal tersebut, Kepala Lapas Banyuwangi, I Wayan Nurasta Wibawa, menegaskan komitmennya untuk terus memacu produktivitas di SAE Paswangi. Ia menyebut bahwa berbagai jenis tanaman pangan dan sayuran kini tengah dibudidayakan secara intensif oleh warga binaan yang menjalani masa asimilasi.

 

Wayan menjelaskan bahwa SAE Paswangi telah mencatatkan riwayat panen yang beragam, mulai dari tanaman pangan utama hingga sektor perikanan. “Kami telah melakukan beberapa kali panen, mulai dari padi, jagung, berbagai sayuran, hingga lele,” ungkapnya.

 

Lebih jauh, Wayan memiliki visi besar agar SAE Paswangi tidak hanya menjadi wadah internal pembinaan warga binaan, tetapi juga berperan dalam mendukung program ketahanan pangan nasional. Ia berharap kawasan ini dapat menjadi model pemberdayaan yang berkelanjutan dan inklusif.

 

“Kami ingin nantinya SAE Paswangi juga berfungsi sebagai sarana edukasi pertanian dan perikanan bagi masyarakat umum. Jadi, warga bisa melihat langsung bagaimana proses budidaya yang dilakukan di sini sekaligus melihat sisi positif dari pembinaan warga binaan kami,” pungkas Wayan.