BANYUWANGI || PratamaNews.com || 25 April 2026 — Penampilan Damar Adji Adyaksa menjadi salah satu sorotan utama dalam pagelaran Pandome Urip Wojiwo. Meski masih berstatus pelajar di Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi, Adji tampil dengan kualitas vokal yang terjaga serta penghayatan yang kuat terhadap nuansa sejarah yang diusung. Ia tidak sekadar bernyanyi, melainkan menghadirkan jiwa tradisi Using yang terasa hidup di atas panggung.
Gelanggang Seni dan Budaya (Gesibu) Banyuwangi malam itu dipadati penonton yang antusias menyaksikan pertunjukan yang digagas kelompok musik Joyokaryo. Mengusung konsep perpaduan drama dan musik tradisional, Pandome Urip Wojiwo menawarkan pengalaman artistik yang tidak hanya memikat secara visual, tetapi juga sarat makna historis.
Dua nama, Yons DD dan Damar Adji Adyaksa, tampil sebagai pengisi utama yang memberi warna berbeda. Yons DD konsisten dengan gaya khasnya dalam merawat dan menampilkan budaya Using, sementara Adji hadir sebagai representasi generasi muda yang mulai menapak kuat di dunia seni tradisi.
Pagelaran ini berada di bawah binaan Elvin Hendrata, sosok yang dikenal aktif dalam pengembangan seni tradisional Banyuwangi, termasuk melalui karya-karya referensi tentang angklung. Melalui Sanggar Seni Joyokaryo, ia terus mendorong lahirnya generasi muda yang tidak tercerabut dari akar budayanya.
Mengangkat tema “Banyuwangi 1771”, pertunjukan ini merekonstruksi kembali semangat perjuangan dalam Perang Bayu. Alur dramatik yang ditampilkan berpadu dengan musik etnik, menciptakan atmosfer yang membawa penonton seolah kembali menapaki sejarah panjang Blambangan.
Sejumlah tokoh seni dan budaya turut hadir dalam kegiatan ini, di antaranya Ketua Dewan Kesenian Blambangan Hasan Basri beserta jajaran, perwakilan instansi pemerintah, serta Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, Syafaat. Kehadiran para orang tua peserta juga menambah suasana hangat, menyaksikan langsung proses berkesenian generasi muda.
Syafaat menekankan pentingnya ruang-ruang pertunjukan semacam ini sebagai media pembelajaran sejarah. Menurutnya, generasi muda perlu dikenalkan pada akar sejarah daerah agar tidak kehilangan orientasi terhadap identitas budaya Belambangan.
Kegiatan ini terselenggara berkat dukungan berbagai pihak, termasuk LPDP, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, dan Dewan Kesenian Blambangan. Apresiasi luas dari masyarakat menunjukkan bahwa pertunjukan ini berhasil menjembatani hiburan dan edukasi dalam satu panggung yang utuh.
Lebih dari sekadar tontonan, Pandome Urip Wojiwo menjadi penegasan bahwa keberagaman budaya Banyuwangi adalah kekuatan. Persilangan etnik, agama, serta kedekatan dengan Bali melahirkan harmoni budaya yang khas—dan itu tercermin jelas dalam pertunjukan yang memadukan tradisi dengan sentuhan pengaruh luar.
Melalui karya ini, Joyokaryo kembali menunjukkan bahwa seni tradisi tidak hanya layak dipertahankan, tetapi juga terus dihidupkan sebagai bagian dari identitas masyarakat di tengah arus zaman yang terus bergerak.




