BANYUWANGI || PratamaNews.com || Warga Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, kembali menggelar tradisi adat sukuran di sumber mata air Pancoran pada Selasa, 30 Juni 2026. Acara yang rutin diadakan setiap bulan Suro ini menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas limpahan rezeki dan berkah air yang tak pernah surut dari Allah SWT. Tradisi ini telah menjadi bagian penting dari kehidupan sosial dan spiritual warga setempat, sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Sumber mata air Pancoran memiliki sejarah panjang yang melekat dalam kehidupan masyarakat Banjarsari. Nama “Pancoran” berasal dari kata “pancur” atau “moncor”, menggambarkan air yang memancar deras seperti pancuran alami. Sejak zaman nenek moyang, air dari sumber ini telah mengaliri sawah dan ladang warga, menjadi penopang utama kehidupan pertanian di wilayah tersebut. Keberadaan sumber ini dipercaya membawa keberkahan dan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar.

Acara sukuran tahun ini dihadiri oleh Camat Glagah, H. Moh Ali Imron, S.Pd, serta Lurah Banjarsari, Sabardiyanto. Kehadiran kedua pejabat tersebut menambah semarak dan makna tersendiri bagi warga. Dalam sambutannya, Camat H. Moh Ali Imron menyampaikan rasa bangga atas semangat masyarakat Banjarsari yang tetap menjaga adat dan tradisi leluhur di tengah arus modernisasi dan perkembangan era digital. Ia menegaskan bahwa pelestarian budaya lokal merupakan bagian dari identitas bangsa yang harus dijaga bersama.
Lebih lanjut, Camat juga mengapresiasi kekompakan warga yang setiap tahun dengan sukarela berpartisipasi dalam kegiatan ini. Menurutnya, tradisi sukuran bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga momentum memperkuat nilai gotong royong dan kebersamaan. Ia berharap semangat ini terus diwariskan kepada generasi muda agar tidak tergerus oleh perubahan zaman.
Sementara itu, Lurah Sabardiyanto dalam sambutannya mengimbau masyarakat untuk terus menjaga warisan leluhur dan kerukunan antarwarga. Ia menekankan pentingnya menjaga kelestarian sumber air Pancoran sebagai aset alam yang bernilai tinggi. Selain itu, ia juga mengingatkan agar masyarakat tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan, saling menghormati, dan menjaga lingkungan sekitar sumber air agar tetap bersih dan lestari.
Antusiasme warga terlihat begitu besar dalam pelaksanaan acara ini. Sejak pagi hari, masyarakat dari berbagai dusun di Banjarsari berbondong-bondong menuju lokasi sumber Pancoran. Mereka meninggalkan sementara aktivitas sehari-hari, termasuk pekerjaan di ladang dan pasar, demi mengikuti tradisi yang dianggap sakral ini. Suasana di lingkungan Pancoran bahkan tampak sepi seperti kota mati, karena hampir seluruh warga berkumpul di lokasi acara.
Tradisi sukuran di sumber Pancoran menjadi bukti nyata bahwa masyarakat Banjarsari masih memegang teguh nilai-nilai spiritual dan sosial yang diwariskan oleh para leluhur. Di tengah kemajuan teknologi dan perubahan gaya hidup, tradisi ini tetap hidup sebagai simbol rasa syukur, kebersamaan, dan penghormatan terhadap alam. Melalui kegiatan ini, warga tidak hanya mempererat hubungan dengan sesama, tetapi juga memperkuat ikatan dengan Sang Pencipta yang telah melimpahkan berkah melalui sumber air Pancoran. (Redaksi)




