BANYUWANGI || 🌏PratamaNews.com🇮🇩 || Menulis adalah cara merawat pengetahuan agar tidak lekang oleh waktu. Semangat tersebut mewarnai Workshop Jurnalistik dan Penyusunan Buku Ber-ISBN yang digelar MTsN 7 Banyuwangi, Kamis (29/10/2026). Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ke depan ini diselenggarakan dalam rangka Bulan Bahasa 2026.
Kepala MTsN 7 Banyuwangi, Sri Endah Zulaikahtul Kharimah, menyampaikan bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca teks, tetapi juga kecakapan memahami alam dan lingkungan. Ia mengingatkan bahwa wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW adalah perintah *iqra*, sebuah pesan tentang pentingnya membaca sebagai jalan memperoleh pengetahuan dan memahami kehidupan.
Dalam kegiatan tersebut, H. Syafaat, S.H., M.H.I., Ketua Lentera Sastra Banyuwangi, memberikan materi mengenai dasar-dasar jurnalistik, penulisan berita, opini, serta teknik penyusunan buku ajar. Ia mengajak para guru menjadikan pengalaman mengajar dan materi pembelajaran sebagai bahan untuk menghasilkan karya tulis yang bermanfaat bagi peserta didik.
Menurut Syafaat, ruang kelas sesungguhnya menyimpan banyak gagasan yang dapat dikembangkan menjadi buku. Materi yang setiap hari disampaikan kepada siswa dapat dihimpun dan disusun secara sistematis sehingga menjadi sumber belajar yang bisa dibaca kembali ketika dibutuhkan.
Ia juga menyoroti pemanfaatan kecerdasan buatan (*artificial intelligence* atau AI) dalam kegiatan menulis. Teknologi tersebut dapat membantu mengembangkan ide dan menyusun naskah, tetapi tetap membutuhkan arahan, pemeriksaan, serta penilaian kritis dari manusia.
“AI adalah teknologi buatan manusia yang harus tetap berada dalam kendali manusia. Penulis perlu memahami tujuan tulisannya, memeriksa kebenaran informasi, dan memastikan hasil akhirnya dapat dipertanggungjawabkan,” jelasnya.
Sementara itu, Yusuf Khoiri, S.STP., dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Banyuwangi, memaparkan teknik pengembangan dan penerbitan buku, baik dalam bentuk cetak maupun digital. Materi meliputi tata letak, desain sampul, pemformatan naskah, serta prosedur pengajuan ISBN.
Melalui workshop ini, MTsN 7 Banyuwangi mendorong para guru agar tidak hanya menjadi penyampai ilmu, tetapi juga menghasilkan karya yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Buku yang lahir dari ruang kelas diharapkan menjadi sumber pengetahuan sekaligus jejak pengabdian seorang pendidik.
Sebab, ilmu yang disampaikan di ruang kelas dapat menjadi bekal bagi siswa hari ini, sedangkan ilmu yang dituliskan dalam buku berpeluang menemani perjalanan belajar mereka pada masa mendatang. Dari membaca, tumbuh pemahaman; dari menulis, pengetahuan menemukan jalan untuk terus diwariskan. ( Safa’at )








