Pratamanews.com – JOMBANG – Suasana penuh kehangatan dan kebersamaan mewarnai kegiatan silaturahmi dan Liwetan Akbar yang digelar Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional (HSN). Kegiatan ini menjadi momentum istimewa untuk mempererat ukhuwah Islamiyah sekaligus merawat tradisi luhur pesantren yang telah mengakar sejak dahulu.
Acara tersebut dihadiri sejumlah alim ulama, pengasuh pondok pesantren, tokoh masyarakat, unsur Pemerintah Kabupaten Jombang, jajaran instansi terkait, Fatayat, Banser, serta masyarakat.
Tampak hadir di antaranya KH Rohmatul Akbar atau yang akrab disapa Gus Bang, Yai Kholil, Gus Mamik, Gus Zuem, Gus Afifudin, Yai Solahudin dari Denanyar, Yai Hasan selaku Rais Syuriyah, KH Fahmi selaku Ketua Tanfidziyah, Asisten I Pemkab Jombang Drs. Purwanto, M.K.P., Yai Ilham selaku Kepala Kantor Kementerian Haji, Kepala Kantor Kemenag Muhajir, serta perwakilan Kejaksaan dan Polres Jombang.
Dalam sambutannya, Asisten I Pemkab Jombang, Drs. Purwanto, M.K.P., menyampaikan apresiasi dan dukungan terhadap terselenggaranya kegiatan Liwetan Akbar. Hal senada juga disampaikan Fahmi Abdullah dari Tebuireng yang mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai sarana mempererat silaturahmi dan menjaga kebersamaan.
Sementara itu, dalam mauidhoh hasanah, Yai Kholil selaku shohibul bait mengungkapkan rasa syukur atas antusiasme para tamu yang hadir sejak 22 hingga 29 Oktober 2026.
Ia menyampaikan bahwa kehadiran para tamu merupakan keberkahan tersendiri bagi pesantren. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, tamu datang membawa rezeki dan pulang membawa doa. Karena itu, doa dan keberkahan dari para tamu menjadi harapan utama keluarga besar Darul Ulum.
Yai Kholil juga mengingatkan kembali sejarah berdirinya Pondok Pesantren Darul Ulum pada 1885 oleh Mbah Yai Tamim Irsyad, dengan bantuan menantunya, KH Kholil Al Juraimi. Ia menegaskan bahwa pesantren hingga kini terus menjaga warisan perjuangan para pendahulu yang diteruskan oleh generasi anak cucu.
Dalam tausiyahnya, ia juga menekankan pentingnya doa sebagai bagian utama dalam kehidupan dan ibadah. Menurutnya, perjuangan para ulama dan pesantren memiliki peran besar dalam perjalanan bangsa, termasuk melalui perjuangan Nahdlatul Ulama dan fatwa Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945.
Lebih lanjut, Yai Kholil menjelaskan bahwa tradisi liwetan bukan sekadar kegiatan makan bersama. Tradisi tersebut merupakan bagian dari budaya masyarakat Indonesia yang tetap dijaga dan diwariskan pesantren dengan nilai-nilai keislaman, seperti tahlil dan istighosah.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama yang dipimpin tiga kiai, salah satunya Gus Afifudin. Setelah itu, suasana semakin hangat melalui ramah tamah dan makan liwetan bersama seluruh tamu undangan.
Melalui kegiatan ini, Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang tidak hanya mempererat tali silaturahmi, tetapi juga meneguhkan komitmen untuk menjaga tradisi, merawat persaudaraan, serta melanjutkan nilai-nilai perjuangan santri bagi agama, bangsa, dan negara.
Zuli








