Pratamanews.Com – Banyuwangi – Menjelang Hari Raya Idulfitri, masyarakat Indonesia memiliki tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun, yaitu nyekar atau berziarah ke makam orang tua, saudara, maupun leluhur yang telah berpulang. Tradisi ini dilakukan dengan tujuan mendoakan arwah para ahli kubur, serta merawat makam agar tetap bersih dan tidak terlupakan oleh generasi selanjutnya.
Nyekar berasal dari kata dalam bahasa Jawa yang berarti menaburkan bunga di atas makam. Namun, dalam praktiknya, nyekar bukan sekadar tabur bunga. Ziarah ini diiringi dengan pembacaan doa, tahlil, dan Yasin untuk mendoakan keluarga yang telah meninggal dunia. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi momen bagi keluarga untuk berkumpul, mengenang jasa orang tua, serta mengajarkan anak-anak akan pentingnya menghormati leluhur.
Sejarah nyekar di Indonesia erat kaitannya dengan tradisi Islam dan budaya lokal. Dalam ajaran Islam, umat dianjurkan untuk mengingat kematian dan mendoakan orang-orang yang telah tiada. Di sisi lain, pengaruh budaya Jawa dan tradisi lokal lainnya turut membentuk kebiasaan berziarah ini. Oleh karena itu, nyekar menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, terutama menjelang momen-momen penting seperti Ramadan dan Idulfitri.
Salah satu peziarah, Chairil Anwar, yang ditemui di Tempat Pemakaman Umum (TPU) dusun Lidah, Desa Genteng Kulon, Banyuwangi Minggu (30/3/2025), mengungkapkan bahwa tradisi ini sudah diajarkan sejak kecil oleh orang tuanya. “Saya datang ke makam ayah, kakak, dan eyang untuk mengirim doa kepada mereka. Orang tua saya dulu mengajarkan bahwa mendoakan ahli kubur adalah kewajiban bagi keluarga yang masih hidup. Selain itu, merawat makam juga penting agar tidak hilang atau terlupakan,” ujarnya.
Chairil juga menambahkan bahwa nyekar bukan hanya sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, tetapi juga sebagai pengingat bahwa hidup di dunia ini sementara. “Dengan berziarah, kita diingatkan untuk selalu berbuat baik, karena suatu saat kita pun akan berada di tempat yang sama,” tambahnya.
Di berbagai daerah di Indonesia, tradisi nyekar memiliki beberapa variasi. Di Jawa, masyarakat sering membawa air bunga dan menaburkannya di atas makam sebagai simbol penghormatan. Di Sumatera dan beberapa wilayah lainnya, ziarah biasanya dilakukan dalam bentuk doa bersama keluarga besar. Meskipun cara pelaksanaannya berbeda, esensi dari nyekar tetap sama, yaitu mendoakan orang-orang yang telah tiada.
Menjelang Lebaran, pemakaman-pemakaman di berbagai kota mulai dipadati oleh peziarah. Tidak hanya individu, tetapi juga keluarga besar datang bersama untuk mengunjungi makam orang tua atau saudara yang telah tiada. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi nyekar tetap lestari dan menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Selain aspek spiritual, nyekar juga memiliki nilai sosial yang tinggi. Momen ini sering dimanfaatkan oleh keluarga untuk berkumpul dan mempererat silaturahmi. “Setiap tahun, keluarga kami selalu berkumpul di makam sebelum Lebaran. Ini menjadi kesempatan untuk bertemu dengan saudara yang jarang berjumpa karena kesibukan masing-masing,” kata seorang peziarah lainnya.
Dengan tetap menjaga tradisi ini, masyarakat tidak hanya memperkuat hubungan dengan leluhur, tetapi juga memperkokoh nilai-nilai kekeluargaan dan kebersamaan. Nyekar menjadi bukti bahwa meskipun seseorang telah tiada, kenangan dan doa dari keluarga yang masih hidup akan terus mengiringi mereka sepanjang masa.
[4R]




