Pratamanews.Com – Banyuwangi – Warga Dusun Cangkring, Desa Pengatigan, Kecamatan Rogojampi, kembali menggelar tradisi unik dalam rangkaian Halal Bihalal Lebaran, yakni Sembur Utik. Tradisi yang digelar setiap hari kedua Lebaran Idulfitri (2 Syawal) ini menjadi momen yang dinanti-nantikan oleh masyarakat setempat, terutama anak-anak dan remaja yang antusias mengikuti prosesi rebutan uang yang dilempar ke udara.

Pada Selasa (1/4/2025), halaman perkampungan di Dusun Cangkring dipenuhi suara tawa dan sorak-sorai. Begitu uang dilempar ke udara, puluhan anak-anak hingga orang dewasa langsung berebut menangkapnya dengan penuh semangat. Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun sejak zaman para leluhur dan menjadi simbol kebersamaan serta kemeriahan usai perayaan Idulfitri.

“Sembur Utik ini memang sudah menjadi tradisi sejak zaman mbah-mbah terdahulu,” ujar Zhedan, salah satu warga setempat.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang berburu uang receh, tetapi juga sebagai sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa, semua larut dalam suasana penuh kebahagiaan. Acara ini juga diisi dengan doa bersama serta makan bareng sebagai simbol kebersamaan dan ungkapan syukur atas perayaan Idulfitri.

Seiring dengan perkembangan zaman, Sembur Utik tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi lokal. Masyarakat percaya bahwa acara ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga memiliki makna mendalam dalam memperkokoh hubungan sosial. Warga yang merantau pun kerap kembali ke kampung halaman demi merasakan kembali semarak dan kehangatan suasana ini.

Dalam pelaksanaannya, Sembur Utik diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh desa. Setelah itu, panitia yang terdiri dari tokoh masyarakat dan pemuda setempat mulai menyiapkan uang receh yang akan dilempar ke udara. Momen inilah yang paling ditunggu oleh peserta, terutama anak-anak yang dengan penuh semangat berlomba menangkap uang yang bertebaran di udara.

Selain keseruan saat berebut uang receh, warga juga menikmati hidangan khas Lebaran yang telah disiapkan secara gotong royong. Menu seperti ketupat, opor ayam, dan aneka jajanan tradisional menjadi pelengkap suasana hangat dalam kebersamaan. Semua warga duduk bersama, saling berbagi cerita, dan menikmati momen kebersamaan yang jarang terjadi di hari-hari biasa.

Bagi warga Dusun Cangkring, Sembur Utik bukan sekadar tentang mendapatkan uang receh, tetapi juga mengenai pelestarian tradisi dan memperkuat hubungan sosial antarwarga. Tradisi ini terus dipertahankan agar nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong tetap terjaga di tengah masyarakat. Keberadaan Sembur Utik juga menarik minat wisatawan lokal yang ingin menyaksikan langsung keunikan budaya ini, menjadikannya sebagai salah satu daya tarik wisata budaya di Banyuwangi.

Dengan semangat untuk melestarikan budaya warisan leluhur, warga Dusun Cangkring berharap bahwa Sembur Utik dapat terus berlangsung dari generasi ke generasi. Mereka percaya bahwa tradisi ini bukan hanya mempererat hubungan sosial, tetapi juga menjadi cerminan identitas dan karakter masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan serta kekeluargaan. Selama masih ada kebersamaan dan semangat untuk berbagi, Sembur Utik akan selalu menjadi bagian dari perayaan Lebaran di Dusun Cangkring.

 

[4R]