Pratamanews.Com // Banyuwangi // Suasana berbeda tampak di Lapangan Desa Sumbersewu, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, pada Sabtu (5/4/2025) pagi. Ratusan warga dari berbagai daerah memadati lapangan yang terletak tepat di timur Kantor Balai Desa Sumbersewu. Tua, muda, anak-anak hingga orang lanjut usia tampak antusias menyaksikan salah satu event yang paling dinanti setiap tahunnya: battle sound system atau lebih dikenal sebagai sound horeg.
Event yang berlangsung selama dua hari ini, mulai Sabtu hingga Minggu (5–6 April 2025), bukan hanya sekadar kompetisi antar komunitas audio. Bagi warga Sumbersewu dan sekitarnya, kegiatan ini telah menjadi bagian dari tradisi tahunan yang erat kaitannya dengan perayaan Idulfitri. Bedanya, pada tahun ini pelaksanaan diundur karena bertepatan dengan Hari Raya Nyepi.
Menurut Ferdy dan Anto, dua pemuda asal Sumbersewu, event sound horeg biasanya digelar pada malam takbiran Idulfitri sebagai bentuk ekspresi suka cita masyarakat menyambut hari kemenangan. Namun karena penyesuaian dengan kalender keagamaan, tahun ini jadwalnya diatur ulang tanpa mengurangi semangat para peserta dan penonton.
“Kami pemuda Sumbersewu sangat bangga karena event ini tetap bisa dilaksanakan. Ini bukan hanya soal adu suara, tapi lebih dari itu—menyatukan pemuda, mempererat silaturahmi, dan menunjukkan potensi kreativitas,” ujar Ferdy dengan mata berbinar.
Anto menambahkan bahwa tradisi ini tidak terlepas dari partisipasi komunitas pemuda yang secara swadaya menyewa perangkat sound system dari berbagai daerah di Jawa Timur. Harga sewa yang mencapai puluhan juta rupiah per unit tidak menjadi penghalang.
“Harga sewa sesuai kesepakatan bersama. Meskipun mahal, tapi ini hobi kami, bahkan jadi kebanggaan tersendiri bisa tampil di ajang ini. Ada kepuasan tersendiri saat melihat speaker berbunyi maksimal dan penonton ikut terhibur,” kata Anto.
Kegiatan battle sound system di Sumbersewu diikuti oleh setidaknya 20 tim dari berbagai kota dan kabupaten di Jawa Timur. Masing-masing tim membawa peralatan audio dengan konfigurasi dan karakteristik suara yang berbeda, menciptakan paduan bass, mid, dan treble yang menggema hingga radius ratusan meter.
Dalam ajang ini, kualitas suara bukan satu-satunya penilaian. Penampilan tata lampu, desain panggung mini, hingga pengaturan kabel menjadi bagian dari keseluruhan estetika pertunjukan.
“Setiap tim membawa keunikan masing-masing. Ada yang fokus di kejernihan vokal, ada yang lebih menonjolkan hentakan bass, bahkan ada yang menyuguhkan efek tata suara sinematik,” ujar Yayan, salah satu juri non-formal yang merupakan penggiat audio dari Genteng.
Pemerintah Desa Sumbersewu menjadi penyelenggara utama kegiatan ini, dibantu oleh komunitas pemuda setempat. Untuk menjaga ketertiban dan kenyamanan, pihak keamanan turut dilibatkan dalam skala besar.
Kapolsek Muncar, AKP Mujiono, menyampaikan bahwa pengamanan dilakukan secara gabungan melibatkan unsur Polri, TNI, Linmas, dan Pemerintah Desa.
“Kami menurunkan personel gabungan untuk memastikan kegiatan sound horeg ini berjalan aman, nyaman, dan tertib. Selain itu, petugas juga melakukan upaya preventif terhadap potensi gangguan seperti pencurian, tawuran, penyalahgunaan miras, narkoba, maupun pencopetan,” jelas AKP Mujiono.
Ia menegaskan bahwa kegiatan ini juga berfungsi sebagai media silaturahmi, tidak hanya antar pemuda, namun juga antar pengusaha sound system yang memiliki ketertarikan dan keahlian di bidang audio.
“Ini bukan hanya tradisi lokal, tetapi juga bentuk kolaborasi sosial dan ekonomi. Banyak pengusaha sound lokal mendapatkan panggung di sini. Dari sisi sosial, ini juga menekan potensi kenakalan remaja karena mereka punya wadah untuk menyalurkan hobi secara positif,” tambahnya.
Hingga hari kedua pelaksanaan, situasi di lapangan terpantau aman dan kondusif. Meski ramai dan padat, tidak ada laporan insiden serius yang terjadi. Pihak keamanan pun tetap siaga hingga acara selesai.
Selain menjadi hiburan, acara sound horeg di Sumbersewu juga membawa dampak ekonomi positif. Penjual makanan, minuman, hingga aksesoris dan pernak-pernik sound system turut meramaikan area sekitar lapangan.
“Setiap tahun acara ini selalu membawa berkah. Dagangan saya laris, apalagi kalau cuaca cerah begini. Anak-anak muda yang datang dari luar daerah juga banyak beli minuman dan jajanan,” kata Bu Siti, pedagang kaki lima yang setiap tahun membuka lapak di sekitar lapangan.
Bagi pemilik sound system, event ini juga menjadi ajang unjuk gigi dan promosi. Banyak di antara mereka yang menerima tawaran sewa dari luar kota setelah tampil di Sumbersewu.
“Kalau kita tampil bagus dan suara mantap, biasanya langsung dapat job tambahan. Ini jadi ajang branding juga,” ujar Joko, pemilik salah satu unit sound asal Jember.
Meski hanya digelar setahun sekali, event sound horeg di Sumbersewu telah menjadi agenda tahunan yang dinanti-nanti warga. Bagi sebagian besar anak muda, ini lebih dari sekadar hobi—melainkan budaya yang tumbuh dari bawah, dikelola secara swadaya, dan terus berkembang dari waktu ke waktu.
“Ini warisan tradisi modern. Tidak semua desa punya kegiatan seperti ini. Kami ingin tetap menjaga tradisi ini agar tetap hidup, tetap semarak, dan bisa diteruskan ke generasi berikutnya,” tutur Ferdy di akhir wawancara.
Dengan pengamanan yang ketat, partisipasi luas dari masyarakat, serta semangat kolaboratif yang tinggi, acara sound horeg di Lapangan Sumbersewu tahun ini berjalan sukses dan memuaskan. Sebuah bukti bahwa tradisi bisa tetap hidup seiring perkembangan zaman, asalkan dikelola dengan hati, kebersamaan, dan kecintaan terhadap budaya lokal.
[4R]




