Generasi Z, yakni mereka yang lahir antara akhir 1990-an hingga awal 2010-an, tumbuh dalam era yang penuh dengan ketidakpastian. Dunia berubah dengan sangat cepat: krisis iklim, pandemi global, disrupsi teknologi, dan instabilitas ekonomi adalah latar yang membentuk kehidupan mereka sejak dini. Tak mengherankan jika banyak dari mereka menyimpan kecemasan tentang masa depan.

Berdasarkan berbagai survei global, Gen Z menunjukkan tingkat kekhawatiran tertinggi dibanding generasi sebelumnya terkait pekerjaan, keuangan, dan stabilitas hidup. Di Indonesia, fenomena ini juga kian terasa. Banyak anak muda merasa cemas tidak bisa membeli rumah, kesulitan mendapatkan pekerjaan tetap, hingga ragu apakah dunia ini masih layak dihuni dalam 20 tahun ke depan.

Salah satu pemicu utama kecemasan ini adalah arus informasi yang tak terbendung. Gen Z adalah digital native, terbiasa hidup dengan internet sejak kecil. Setiap hari, mereka disuguhi berita tentang PHK massal, naiknya harga kebutuhan pokok, konflik geopolitik, hingga ancaman perubahan iklim. Informasi tersebut, meski penting, kadang datang terlalu cepat dan terlalu sering, tanpa disertai ruang untuk mengolah atau mendiskusikannya secara sehat.

Selain itu, standar kesuksesan yang terbentuk di media sosial juga ikut menambah tekanan. Di dunia maya, terlihat seolah semua orang sukses di usia muda: punya bisnis, traveling ke luar negeri, hidup mapan. Akibatnya, banyak Gen Z merasa tertinggal dan gagal, padahal realita hidup tidak sesederhana highlight Instagram.

Namun di balik kecemasan itu, Gen Z adalah generasi yang penuh potensi. Mereka adaptif, kreatif, dan kritis terhadap isu-isu sosial. Banyak di antara mereka yang mulai mencari solusi: membuat komunitas diskusi, menjalankan usaha kecil, hingga menyuarakan keprihatinan lewat karya seni dan konten digital.

Perlu pendekatan bersama untuk meredam kecemasan ini. Orang tua, guru, pembuat kebijakan, dan media perlu menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan mental dan emosional generasi muda. Edukasi tentang literasi finansial, pengembangan karier, serta ruang aman untuk berbagi kegelisahan adalah kebutuhan mendesak hari ini.

Kecemasan Gen Z bukanlah kelemahan, tetapi sinyal bahwa mereka peduli terhadap masa depan. Sudah saatnya kita mendengarkan lebih banyak, bukan hanya memberi nasihat. Karena masa depan, bagaimanapun bentuknya nanti, akan mereka warisi—dan kita bertanggung jawab membekali mereka dengan harapan, bukan ketakutan.

oleh : Luxxx