Pratamanew.com Cabai menjadi salah satu komoditas hortikultura yang paling dicari di Indonesia. Lonjakan harga cabai sering membuat masyarakat resah, sementara petani kerap menghadapi tantangan produksi. (28/9)

Namun, sejumlah petani kini mulai mengadopsi teknik budidaya yang lebih modern dan terukur untuk meningkatkan hasil panen.

Menurut pakar hortikultura dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), kunci sukses bertani cabai dimulai dari pemilihan varietas unggul.

Varietas hibrida tahan penyakit, seperti varietas Tanjung 2, Lado F1, atau Bhaskara. Banyak direkomendasikan, karena mampu berproduksi tinggi dan tahan serangan penyakit utama seperti layu fusarium.

Tahap berikutnya adalah persiapan lahan. Tanah harus dicangkul atau dibajak sedalam 30–40 cm, lalu dipupuk kandang sekitar 20–30 ton per hektare.

Setelah itu, bedengan dibuat dengan lebar 1–1,2 meter, tinggi 30 cm, dan jarak antarbedengan 50 cm. Untuk menjaga kelembapan dan mencegah gulma, petani disarankan menutup bedengan dengan mulsa plastik hitam perak.

Proses penanaman dilakukan setelah bibit berumur 3–4 minggu. Jarak tanam ideal adalah 60 x 70 cm untuk varietas cabai besar dan 50 x 60 cm untuk cabai rawit.

Penyiraman sebaiknya menggunakan sistem irigasi tetes (drip irrigation), agar kebutuhan air tercukupi tanpa pemborosan.

Dari sisi nutrisi, pemberian pupuk berimbang menjadi kunci. Pupuk dasar NPK diberikan saat tanam, kemudian ditambahkan pupuk susulan setiap 10–14 hari sekali.

Kombinasi pupuk organik cair (POC) dan pupuk daun juga membantu tanaman tumbuh optimal. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara terpadu. Pengamatan rutin dilakukan seminggu sekali.

Jika ditemukan serangan hama thrips atau kutu daun, petani bisa menggunakan insektisida nabati dari ekstrak daun mimba atau bawang putih sebelum beralih ke pestisida kimia. Penyiangan gulma dilakukan secara manual agar tidak mengganggu perakaran cabai.

Proses panen dilakukan saat cabai mencapai warna merah 80–90% untuk menjaga kualitas dan daya simpan.

Panen sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari untuk menghindari kerusakan akibat panas. Dengan teknik ini, produktivitas dapat mencapai 10–15 ton per hektare, jauh lebih tinggi dibanding metode tradisional.

Jika diterapkan secara konsisten, teknik ini diyakini mampu menekan kerugian akibat gagal panen sekaligus menjaga pasokan cabai tetap stabil.