MUARA ENIM || PratamaNews.com || Kantor KSP (Koperasi Simpan Pinjam) Sehati Makmur Abadi yang berlokasi di Desa Simpang 4 Metur, Kabupaten Muara Enim, mendapat desakan dari masyarakat. Sejumlah nasabah mendatangi kantor koperasi untuk mengambil jaminan pinjaman, khususnya kendaraan bermotor, yang menurut pengakuan mereka telah lunas pembayarannya.
Namun, saat konsumen datang ke kantor KSP simpang 4 metur kondisi kantor kerap dalam keadaan tutup. Berdasarkan keterangan salah satu karyawan KSP yang berhasil ditemui media, saat ini pihak KSP sedang diaudit oleh tim dari cabang Prabumulih. Audit tersebut dilakukan karena koperasi disebut mengalami permasalahan keuangan.
Tiga orang karyawan KSP yang ditemui media, berinisial SR, TD, dan DT, mengaku selama bekerja mereka menjalankan perintah dan arahan dari kepala cabang Prabumulih berinisial AD. Mereka menyebutkan bahwa dalam operasional sehari-hari, karyawan sering diminta menutupi kekurangan uang saat proses penutupan kas (closing) apabila setoran tidak mencapai target.
“Kalau uang tidak cukup, kami disuruh cari solusi sendiri. Bahkan sampai meminjam uang keluarga,” ungkap salah satu karyawan.
Yang menjadi tanda tanya, menurut keterangan para karyawan, setiap setoran atau uang closing diminta oleh kepala cabang untuk ditransfer melalui rekening pribadi RR, yang menjabat sebagai OB, bukan melalui rekening resmi perusahaan KSP. Selama KSP beroperasi, aliran dana disebut selalu melalui rekening RR, dengan alasan RR yang akan menyetorkan langsung ke kepala cabang.
“Pernah terdengar langsung kami disuruh transfer ke rekening RR saja, nanti RR yang setorkan ke kepala cabang,” ujar mereka.
Dalam proses audit yang dilakukan oleh pihak auditor berinisial WD, disebutkan ditemukan kerugian koperasi hampir mencapai Rp1,3 miliar. Berdasarkan keterangan ketiga karyawan, auditor menuding adanya indikasi penggelapan dana oleh karyawan yang bekerja di KSP Metur.
Bahkan, disebutkan bahwa tiga karyawan tersebut terancam akan dilaporkan ke pihak kepolisian di Prabumulih. Meski demikian, ketiganya menyatakan tidak akan menghindari tanggung jawab apabila diminta memberikan keterangan secara resmi.
“Kami kaget, dari mana bisa muncul angka hampir Rp1,3 miliar dan dituduhkan ke kami. Kami ini bukan orang mampu,” ungkap mereka.
Media juga mencatat adanya pengakuan dari salah satu karyawan yang menyebut pernah menerima pesan WhatsApp dari seorang oknum yang menawarkan “penyelesaian” agar terbebas dari masalah, dengan permintaan uang sebesar Rp10 juta per orang. Bukti percakapan tersebut diakui masih disimpan oleh pihak karyawan sebagai barang bukti, namun nama oknum belum dipublikasikan.
Hingga kini, ketiga karyawan yang diduga terlibat menyatakan tidak menerima tuduhan penggelapan tersebut. Mereka menilai angka kerugian yang disebutkan audit tidak masuk akal dan mengaku siap membuka fakta sebenarnya.
Media menyatakan akan terus memantau perkembangan kasus ini, termasuk langkah hukum yang akan ditempuh serta klarifikasi dari pihak manajemen KSP Sehati Makmur Abadi dan pihak terkait lainnya.( Samsiar)




