Pratamanews.com – SIDOARJO — Masyarakat Kelurahan Tambakkemerakan, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, menggelar tradisi ruwat desa atau sedekah bumi sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keselamatan, ketentraman, serta keberkahan yang dirasakan selama satu tahun terakhir. Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat, 30 Januari 2026, ini juga menjadi upaya melestarikan budaya lokal sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga.
Ruwat desa merupakan tradisi turun-temurun yang telah dilaksanakan sejak Tambakkemerakan masih berstatus desa. Meski kini telah menjadi kelurahan, masyarakat tetap menjaga nilai-nilai kearifan lokal sebagai bagian dari identitas dan jati diri wilayah. Melalui ruwat desa ini, warga memohon doa restu agar Kelurahan Tambakkemerakan ke depan semakin makmur, sejahtera, rukun, dan terhindar dari berbagai mara bahaya.
Lurah Tambakkemerakan, Bambang Supriyanto, dalam sambutannya menyampaikan bahwa ruwat desa bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan sarat makna spiritual dan sosial.
“Ruwat desa atau sedekah bumi ini merupakan ungkapan rasa syukur kita kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keselamatan dan ketentraman yang telah diberikan kepada masyarakat Tambakkemerakan. Tradisi ini adalah warisan leluhur yang harus terus kita jaga, karena mengandung nilai kebersamaan, budaya, dan doa untuk kebaikan bersama. Harapannya, Tambakkemerakan semakin maju, masyarakatnya sejahtera, serta dijauhkan dari segala bentuk mara bahaya,” ujarnya.
Menariknya, ruwat desa ini juga menjadi momentum untuk mengingat kembali sejarah Kelurahan Tambakkemerakan. Nama “Tambakkemerakan” hingga kini masih menyimpan tanda tanya, mengingat secara geografis tidak ditemukan wilayah tambak sebagaimana tersirat dalam namanya. Namun berdasarkan penelitian seorang ahli sejarah yang meneliti wilayah Krian, dalam kitab literasi sejarah disebutkan adanya daerah pada masa Kerajaan Majapahit abad ke-13 yang sumber kehidupan masyarakatnya berasal dari sektor perikanan. Wilayah tersebut diduga kuat merupakan Tambakkemerakan, diperkuat dengan keberadaan desa-desa sekitar yang juga tercatat dalam kitab tersebut, seperti Ponokawan, Kraton, Terik, Tropodo, dan Candinegoro.
Ketua Karang Taruna Kelurahan Tambakkemerakan sekaligus Wakil Ketua Panitia, Sapto Teguh, yang akrab disapa Mas Brem, menegaskan bahwa ruwat desa menjadi ruang penting untuk menumbuhkan rasa memiliki, khususnya bagi generasi muda.
“Ruwat desa ini bukan hanya tradisi, tetapi momentum untuk mempererat silaturahmi dan menanamkan kecintaan terhadap budaya serta sejarah Tambakkemerakan. Kami berupaya melibatkan seluruh elemen masyarakat agar tradisi ini tetap hidup dan dikenal oleh generasi penerus,” ungkapnya.
Rangkaian acara ruwat desa diawali dengan arak-arakan budaya yang diiringi Reog Singo Yudo, kesenian kebanggaan yang menjadi aset Kelurahan Tambakkemerakan. Suasana semakin khidmat dengan suguhan karawitan dan campursari sebelum puncak acara pagelaran wayang kulit.
Pagelaran wayang kulit berlangsung sejak siang hingga malam hari. Pada siang hari, pementasan dibawakan oleh Dalang Ki Bambang Herman asal Plandaan, Jombang, yang menyajikan lakon penuh pesan moral dan filosofi kehidupan. Sementara pada malam harinya, pertunjukan dilanjutkan oleh Ki Handika Widodo, yang dipadukan dengan alunan campursari dan karawitan “Samya Wirama”, menambah semarak sekaligus kekhidmatan suasana ruwat desa.
Melalui kegiatan ruwat desa ini, masyarakat berharap nilai budaya, sejarah, dan kebersamaan dapat terus terjaga seiring dengan perkembangan Tambakkemerakan sebagai kelurahan yang maju namun tetap berakar pada tradisi leluhur.
[4R]




