Pratamanews.com // SIDOARJO // Rabu (29/7/2026) – Genap satu pekan setelah menyampaikan aspirasi di depan Kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Timur pada Rabu (22/7/2026), para sopir angkutan kota (angkot) mengaku masih menunggu kepastian dan tindak lanjut dari pemerintah terkait persoalan yang mereka hadapi.

Dalam aksi tersebut, para sopir menyampaikan harapan agar pemerintah memberikan solusi atas dampak kebijakan transportasi yang dinilai memengaruhi keberlangsungan mata pencaharian mereka. Menurut keterangan para sopir, saat aksi berlangsung mereka tidak dapat bertemu langsung dengan Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur, Dr. Ir. Nyono, S.T., M.T., IPU., untuk menyampaikan aspirasi secara langsung.

Nurul Huda, sopir angkot HN jurusan Krian–Bungurasih, menegaskan bahwa para sopir tidak menolak kemajuan transportasi umum. Namun, menurutnya, setiap kebijakan harus tetap memperhatikan nasib para sopir angkot yang selama ini menggantungkan hidup dari profesi tersebut.

“Kami tidak menolak kemajuan transportasi umum. Namun, setiap kebijakan harus mempertimbangkan nasib para sopir angkot yang selama ini menggantungkan hidup dari profesi tersebut. Pemerintah harus mampu menghadirkan solusi yang adil, bukan justru menimbulkan persoalan baru. Dialog, kajian yang matang, dan keberpihakan kepada masyarakat kecil harus menjadi prioritas agar tidak ada pihak yang dirugikan,” ungkap Nurul Huda.

Ia juga meminta pemerintah dan instansi terkait segera mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

“Kami meminta pemerintah dan instansi terkait segera mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan persoalan angkutan umum ini. Jangan sampai para sopir angkot terus menjadi korban kebijakan yang tidak diikuti dengan solusi. Aspirasi mereka harus didengar, dan keputusan yang diambil harus mengedepankan rasa keadilan, keberlangsungan mata pencaharian, serta kepentingan masyarakat secara luas,” lanjutnya.

Para sopir berharap kondisi yang mereka alami tidak dibiarkan berlarut-larut tanpa kepastian. Menurut mereka, persoalan ini seharusnya disikapi dengan solusi yang nyata melalui dialog dan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat kecil.

Sementara itu, Arri Pratama, S.E., S.H., turut menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi para sopir angkot. Menurutnya, sudah sepatutnya pemerintah memberikan perhatian serius terhadap aspirasi yang telah disampaikan secara terbuka.

“Saya turut prihatin atas kondisi yang dialami rekan-rekan sopir angkot. Mereka telah menyampaikan aspirasi secara baik pada Rabu, 22 Juli 2026. Namun hingga hari ini, tepat sepekan kemudian, mereka mengaku belum memperoleh informasi maupun tindak lanjut dari pihak terkait. Aspirasi masyarakat seharusnya menjadi perhatian pemerintah. Yang dibutuhkan para sopir adalah solusi dan ruang dialog, bukan pembiaran yang membuat mereka merasa diabaikan,” ujar Arri Pratama.

Hingga berita ini diterbitkan pada Rabu (29/7/2026), redaksi masih menunggu tanggapan, klarifikasi, maupun hak jawab dari Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur terkait aspirasi yang telah disampaikan para sopir angkutan kota tersebut.

[u1]