BANYUWANGI ||PratamaNews.com|| Pelantikan kepengurusan Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama Banyuwangi masa khidmat 2026 menjadi momentum penting dalam memperkuat peran organisasi keagamaan di tengah dinamika sosial masyarakat. Tidak hanya mengukuhkan jajaran syuriyah dan tanfidziyah, agenda tersebut juga diiringi dengan pengukuhan berbagai lembaga di bawah naungan PCNU Banyuwangi sebagai bagian dari upaya memperluas pengabdian kepada umat di berbagai sektor kehidupan.
Di antara lembaga yang mendapat perhatian adalah Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama atau LKKNU. Lembaga ini dinilai strategis karena memiliki fokus pada penguatan ketahanan keluarga, pemberdayaan masyarakat, serta peningkatan kesejahteraan sosial. Di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat, LKKNU hadir membawa gagasan tentang pentingnya membangun keluarga maslahah, yakni keluarga yang sakinah, sejahtera, berdaya, dan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Sebagai salah satu perangkat organisasi Nahdlatul Ulama, LKKNU memiliki tugas melaksanakan kebijakan organisasi dalam bidang kesejahteraan keluarga dan sosial kemasyarakatan. Program-programnya mencakup penguatan mental spiritual keluarga, kesehatan keluarga, pemberdayaan perempuan, pendampingan keluarga rentan, konseling keluarga, hingga edukasi pranikah dan isu kependudukan. Kehadiran lembaga ini menjadi penting karena keluarga dipandang sebagai fondasi utama dalam membangun masyarakat yang sehat dan harmonis.
Konsep keluarga maslahah yang diusung LKKNU tidak hanya dimaknai sebatas keharmonisan rumah tangga, tetapi juga kemampuan keluarga menjaga nilai agama, moralitas, dan kepedulian sosial di tengah kehidupan masyarakat. Karena itu, keberadaan LKKNU menjadi salah satu instrumen penting Nahdlatul Ulama dalam memperkuat ketahanan sosial berbasis keluarga.
Dalam kepengurusan LKKNU PCNU Banyuwangi, Dalilatus Saadah dipercaya menjabat sebagai ketua. Ia dikenal aktif sebagai penyuluh agama Islam di KUA Kecamatan Gambiran serta terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan. Selain itu, ia juga menjadi pengurus Muslimat NU Cabang Banyuwangi dan bagian dari Forum Kabupaten Sehat Banyuwangi. Pengalaman tersebut dinilai menjadi modal penting dalam mengembangkan program-program pemberdayaan keluarga di tingkat akar rumput.
Posisi wakil ketua diisi oleh Nur Anim Jauhariyah, seorang akademisi yang saat ini menjabat Ketua Program Studi Magister Ekonomi Syariah di Universitas KH Mukhtar Syafaat. Keterlibatan unsur akademisi diharapkan mampu memperkuat pengembangan program berbasis riset dan kebutuhan nyata masyarakat.
Sementara itu, dalam jajaran kepengurusan terdapat pula Lilikh Maslihah yang dikenal memiliki pengalaman dalam pengawasan publik dan pemberdayaan masyarakat. Kehadirannya diharapkan dapat memperkuat tata kelola organisasi sekaligus mendorong penguatan partisipasi sosial masyarakat.
Menariknya, dalam struktur pembina LKKNU turut bergabung dua legislator perempuan lintas partai di DPRD Banyuwangi. Salah satunya adalah Marifatul Kamila dari Partai Golkar yang aktif dalam isu sosial dan pemberdayaan perempuan. Selain itu terdapat pula Desi Prakasiwi dari PDI Perjuangan. Kehadiran tokoh-tokoh perempuan dari berbagai latar belakang tersebut menunjukkan bahwa isu penguatan keluarga dan kesejahteraan masyarakat menjadi agenda bersama yang melampaui batas kepentingan politik.
Pelantikan dan pengukuhan lembaga-lembaga di lingkungan PCNU Banyuwangi menjadi simbol konsolidasi organisasi menuju pengabdian yang lebih luas dan nyata di tengah masyarakat. Kolaborasi antara tokoh agama, akademisi, aktivis sosial, hingga unsur legislatif diharapkan mampu menjadikan LKKNU sebagai gerakan sosial yang tidak hanya kuat secara struktural, tetapi juga memberi dampak langsung bagi kehidupan umat.
Di tengah arus perubahan zaman yang terus bergerak, PCNU Banyuwangi tampak ingin menegaskan bahwa kekuatan organisasi tidak semata terletak pada besarnya jumlah jamaah, melainkan pada kemampuannya menjaga kemaslahatan masyarakat mulai dari lingkup yang paling mendasar, yakni keluarga.




