BANYUWANGI || 🌏PratamaNews.com🇮🇩 || Universitas Bakti Indonesia (UBI) Banyuwangi mendorong pemuda Paguyuban Blok EM Rogojampi untuk semakin peduli terhadap lingkungan melalui pengelolaan sampah organik rumah tangga. Upaya tersebut diwujudkan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Penyuluhan Hukum Lingkungan dan Pemanfaatan Sampah Organik melalui Biopori-Biopot di Paguyuban Blok EM Rogojampi.”

 

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada 16 Agustus 2026 di Kantor Desa Rogojampi dan berlangsung selama satu hari. Tim PKM UBI Banyuwangi diketuai Nuri Hidayati, S.H., M.H., dengan anggota Thorieq Moh. Yusuf, M.Pd. dan Rima Suwistika, M.Pd. Kegiatan dibuka oleh Kepala Dusun Rogojampi Utara, Abdurrohman.

 

Dalam sambutannya, Abdurrohman mengapresiasi kegiatan yang dinilai memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya kalangan pemuda. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya memberikan pemahaman mengenai pentingnya hukum lingkungan, tetapi juga membekali masyarakat dengan keterampilan praktis dalam mengelola sampah organik rumah tangga.

 

“Pengelolaan sampah tidak cukup hanya dengan membuang sampah pada tempatnya. Masyarakat perlu diberikan pengetahuan dan keterampilan agar sampah, khususnya sampah organik, dapat dimanfaatkan kembali,” demikian semangat yang ditekankan dalam kegiatan tersebut.

 

Program PKM ini dilaksanakan sebagai respons terhadap sejumlah persoalan lingkungan di masyarakat, mulai dari masih terbatasnya pemahaman mengenai hukum lingkungan, belum optimalnya pengelolaan sampah organik rumah tangga, hingga perlunya meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

 

Kegiatan tersebut mendapat dukungan melalui Hibah PKM DPPM Kemdiktisaintek Tahun 2026 Skema Pengabdian Berbasis Masyarakat (PBM) Ruang Lingkup Pemberdayaan Masyarakat Pemula (PMP).

 

Dalam pelaksanaannya, peserta mendapatkan penyuluhan mengenai hukum lingkungan dan pentingnya pengelolaan sampah sesuai prinsip perlindungan dan pelestarian lingkungan. Materi kemudian dilanjutkan dengan pelatihan serta praktik pemanfaatan sampah organik menggunakan teknologi tepat guna berupa biopori dan biopot.

 

Pendekatan yang digunakan bersifat partisipatif. Para pemuda Paguyuban Blok EM Rogojampi dilibatkan secara langsung mulai dari sosialisasi, penyuluhan, pelatihan, praktik pembuatan dan pemanfaatan biopori serta biopot, hingga pendampingan, monitoring dan evaluasi.

 

Biopori dan biopot diperkenalkan sebagai teknologi sederhana yang dapat diterapkan masyarakat di lingkungan rumah masing-masing. Sampah organik seperti sisa makanan dan bahan organik rumah tangga dapat dimanfaatkan melalui proses dekomposisi sehingga menghasilkan pupuk organik yang dapat digunakan untuk tanaman.

 

Selain mengurangi volume sampah organik yang dibuang, penerapan biopori juga memiliki manfaat ekologis karena dapat membantu meningkatkan daya resap air ke dalam tanah.

 

Program tersebut menargetkan pemasangan sedikitnya 25 unit biopori dan/atau biopot, sekaligus mendorong pengurangan volume sampah organik rumah tangga serta pemanfaatan hasil pengolahannya sebagai pupuk alami.

 

Tim PKM UBI Banyuwangi juga menekankan pentingnya keberlanjutan program. Karena itu, pendampingan dan evaluasi dilakukan agar masyarakat tidak hanya mampu membuat biopori dan biopot, tetapi juga memahami cara pemeliharaan serta pemanfaatannya secara berkelanjutan.

 

Paguyuban Blok EM Rogojampi diharapkan dapat menjadi salah satu penggerak kegiatan peduli lingkungan dan mampu menularkan praktik pengelolaan sampah organik kepada masyarakat yang lebih luas.

 

Melalui program ini, UBI Banyuwangi tidak hanya mendorong masyarakat untuk mengurangi sampah, tetapi juga membangun kesadaran bahwa persoalan lingkungan memiliki dimensi hukum, sosial, dan ekologis yang harus menjadi tanggung jawab bersama.

 

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, khususnya SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab serta SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim.

 

Dengan mengubah sampah organik menjadi pupuk melalui biopori dan biopot, pemuda Rogojampi didorong untuk tidak lagi memandang sampah sebagai persoalan semata, melainkan sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat. (Tiem)