Sidoarjo – PratamaNews.com – Seorang calon peserta ajang fun run bertajuk “Djoworun 2025” menjadi korban dugaan penipuan setelah melakukan pembayaran biaya pendaftaran sebesar Rp175.000 kepada rekening yang diklaim milik panitia. Alih-alih mendapatkan informasi lanjutan, peserta justru tak menerima balasan sama sekali dari penyelenggara.
Korban yang berinisial AP, mengungkapkan bahwa kejadian tersebut berlangsung pada tanggal 3 Mei 2025. Ia tertarik untuk mengikuti ajang fun run tersebut setelah melihat promosi yang tersebar di media sosial. Setelah melakukan pendaftaran dan membayar biaya yang diminta, AP mendapat keterangan bahwa konfirmasi serta detail teknis acara akan dikirimkan melalui email dalam beberapa hari.
Namun, hingga beberapa hari setelah pembayaran dilakukan, tak ada satupun balasan dari pihak panitia melalui email seperti yang dijanjikan. “Saya sudah transfer sesuai instruksi, tapi tidak ada info apapun setelah itu. Email tidak dibalas, nomor panitia juga tidak aktif,” ujar AP kepada PratamaNews.
Setelah terus mencoba menghubungi panitia, AP akhirnya mendapat balasan dari nomor lain yang mengaku sebagai bagian dari tim penyelenggara. Nomor tersebut meminta AP untuk menghubungi kontak dengan nomor 0858-xxxx-xxxx untuk pengambilan race pack dan validasi data.
Ketika dihubungi, nomor yang diduga milik seseorang berinisial AS itu memberikan jawaban yang semakin mencurigakan. AP diminta mengirimkan nomor rekening bank untuk proses pengembalian dana (refund), dengan syarat harus mengirimkan tangkapan layar (screenshot) saldo yang ada di rekening.

“Saya diminta kirim nomor rekening dan bukti saldo, alasannya agar bisa refund dana. Tapi sebelum saya selesai bicara, telepon langsung dimatikan. Setelah itu saya coba hubungi lagi, tapi sudah diblokir,” tutur AP.
Lebih mencurigakan lagi, pihak panitia juga kembali tidak merespons panggilan ataupun pesan dari AP. Hingga berita ini ditulis, tidak ada kejelasan maupun itikad baik dari pihak yang mengaku sebagai penyelenggara “Djoworun 2025”.
Fenomena penipuan berkedok acara olahraga seperti fun run dan event publik lainnya bukanlah hal baru. Dengan iming-iming acara menarik, harga pendaftaran terjangkau, serta kemasan promosi profesional, banyak oknum memanfaatkan antusiasme masyarakat untuk meraup keuntungan pribadi secara ilegal.
Pakar keamanan digital menilai bahwa pola penipuan semacam ini semakin sering terjadi, terutama dengan maraknya penggunaan media sosial sebagai sarana promosi. “Masyarakat harus ekstra hati-hati, pastikan penyelenggara terverifikasi dan memiliki identitas jelas, termasuk alamat kantor, website resmi, serta kontak yang dapat diverifikasi,” ujar Bambang Subekti, pakar keamanan digital dari Surabaya.
AP berharap kasus ini dapat menjadi pelajaran bagi masyarakat luas agar lebih waspada. Ia juga berencana melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian agar pelaku dapat segera diusut.
“Saya tidak ingin orang lain mengalami hal yang sama. Uang memang tidak seberapa, tapi ini soal kepercayaan publik. Jangan sampai semakin banyak korban,” pungkas AP.
Redaksi PratamaNews akan terus menelusuri perkembangan kasus ini, termasuk upaya untuk menghubungi nomor dan akun media sosial yang mengaku sebagai panitia “Djoworun 2025”.
[Ew]




