Pratamanews.Com – Sidoarjo – Dalam rangka memperkuat nilai spiritual dan kebersamaan antaranggota, Majelis Pimpinan Cabang (MPC) Pemuda Pancasila Kabupaten Sidoarjo menggelar kegiatan ziarah religi ke makam Wali 8 pada Sabtu dan Minggu, 19–20 April 2025. Kegiatan yang diikuti oleh puluhan anggota ini menjadi momen penting dalam menanamkan nilai-nilai keteladanan dari para wali, serta mempererat jalinan emosional antaranggota dalam bingkai ukhuwah dan pengabdian.
Kegiatan ini didampingi langsung oleh Ustaz Komar, tokoh agama dari Buduran, yang memberikan pembekalan spiritual sepanjang perjalanan. Dalam rombongan yang penuh semangat itu, setiap peserta tampak antusias menyambut agenda ziarah yang menyentuh sisi batin mereka.
Ketua pelaksana kegiatan, Donillo, mengungkapkan bahwa ide ziarah wali ini bermula dari obrolan santai di sekretariat MPC. “Sebenarnya ini muncul begitu saja dari keinginan beberapa rekan yang merasa ingin menyegarkan jiwa. Dari perbincangan ringan, kami menemukan bahwa banyak di antara kami merindukan suasana religius yang bisa mendekatkan diri kepada Allah, sekaligus mempererat silaturahmi,” ujarnya.
Donillo menambahkan, walau acara ini bersifat internal, panitia tetap serius menyiapkan rute, akomodasi, hingga materi yang akan disampaikan selama perjalanan. “Kami ingin ini tidak hanya jadi acara jalan-jalan biasa, tapi benar-benar bisa jadi bekal rohani,” katanya.

Ketua MPC Pemuda Pancasila Sidoarjo, Abah Mursidi ST, yang turut memimpin rombongan, menyampaikan pesan mendalam tentang arti penting kegiatan ini. “Ziarah ini adalah bentuk refleksi, penguatan nilai-nilai moral dan keagamaan. Kita belajar dari jejak para wali—bagaimana mereka berdakwah dengan kasih sayang, kesabaran, dan pendekatan budaya,” ucap Abah Mursidi dalam sambutannya.
Ia secara khusus mengangkat kisah Sunan Giri sebagai inspirasi utama dalam perjalanan ini. Sunan Giri, atau Raden Paku, dikenal sebagai ulama besar yang tak hanya menyebarkan Islam dengan bijak, tetapi juga membangun sistem pendidikan dan pemerintahan yang berkeadilan. “Sunan Giri memberi kita pelajaran bahwa kekuatan spiritual bisa berdampingan dengan kepemimpinan yang adil. Beliau bukan hanya guru agama, tapi juga pendiri sistem pemerintahan berbasis moral,” ujar Abah Mursidi dengan penuh semangat.
Abah juga mengisahkan bagaimana para wali—terutama Sunan Giri—menggunakan pendekatan budaya seperti seni, permainan anak-anak, dan dialog sosial untuk menyampaikan nilai-nilai Islam. “Mereka tidak memaksa, tapi menyentuh hati. Ini yang harus kita teladani dalam kehidupan berorganisasi dan bermasyarakat,” imbuhnya.

Perjalanan panjang menuju makam para wali tidak hanya diisi dengan doa dan dzikir, tetapi juga dengan suasana hangat dalam bus. Panitia menyiapkan kuis-kuis islami dan sesi berbagi cerita agar peserta tidak jenuh. Salah satu sesi paling menyentuh adalah saat beberapa anggota diminta menceritakan pengalaman pribadi mereka terkait dengan sosok Abah Mursidi atau pandangan mereka tentang ziarah.
Ndan Hermanto menjadi salah satu yang menyita perhatian. Ia menceritakan perjalanan batinnya sejak pertama kali bertemu dengan Abah Mursidi. “Dari awal saya kenal beliau, saya sudah merasa ada ketulusan. Beliau bukan pemimpin yang sekadar memerintah, tapi yang membimbing dengan contoh dan akhlak,” ujarnya dengan suara bergetar.
Tak hanya itu, Bapak Sujito, seorang peserta yang mengenal Abah Mursidi sejak Bapak Sujito masih aktif sebagai anggota TNI, juga turut berbagi kisah. “Saya mengenal beliau sejak saya masih bertugas aktif di kesatuan, Beliau abah Mursidi tetap rendah hati. saya bangga sama beliau hingga sekarang,” ujar Sujito.
Bapak Sunarto, peserta lainnya, menambahkan cerita menarik. Ia mengaku memiliki kebiasaan yang sama dengan Abah Mursidi, yakni senang melakukan ziarah ke makam-makam leluhur. “Ziarah bagi saya bukan hanya ritual, tapi cara kita menyambungkan diri dengan sejarah, dengan nilai-nilai kebaikan dari masa lalu. Dan saya senang bisa bertemu sosok seperti Abah Mursidi yang punya semangat serupa,” katanya.

Salah satu peserta dari Krian, Hadi Purnomo, menyampaikan kesan mendalamnya. “Agenda padat selama dua hari ini memang melelahkan, tapi saya merasa hati saya lebih damai. Bahagia dan bangga bisa ikut. Mudah-mudahan perjalanan ini bisa menjadikan kita pribadi yang lebih baik dan lebih dekat kepada Sang Pencipta,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kebersamaan dalam rombongan ziarah ini terasa begitu kuat. “Di luar sana mungkin banyak yang menganggap Pemuda Pancasila itu keras. Tapi lewat kegiatan ini, kita tunjukkan bahwa kami juga punya sisi religius, sisi kemanusiaan, dan keinginan untuk terus memperbaiki diri,” ujarnya.

Dalam dua hari, rombongan menziarahi makam para wali yang dikenal sebagai Wali 8,
Setiap titik ziarah menjadi tempat untuk berdoa, bertafakur, dan mengenang perjuangan dakwah Islam di tanah Jawa.
Menurut Ustaz Komar, pendamping spiritual dalam perjalanan ini, ziarah ke makam wali bukan hanya tradisi, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap jasa para ulama. “Ziarah itu bukan menyembah makam, tapi mengingatkan kita akan kematian dan perjuangan orang-orang shalih. Kita belajar, bukan memuja,” tegasnya dalam tausiyah.
Ia juga mengapresiasi kekompakan rombongan dan berharap kegiatan serupa bisa dijadikan agenda tahunan. “Ini bentuk nyata bahwa Pemuda Pancasila bukan hanya organisasi sosial, tapi juga bisa menjadi wadah pembinaan spiritual,” katanya.
Dalam suasana penuh haru di atas bus, Abah Mursidi menyampaikan harapan yang menggugah hati. “Mudah-mudahan semua yang ada di bis ini bisa bersama-sama melaksanakan umrah bersama,” imbuh Abah Mursidi selaku Ketua MPC Pemuda Pancasila Sidoarjo. Harapan tersebut sontak diamini oleh seluruh jamaah yang saat itu bersama-sama di atas bis, mengangkat tangan sambil mengucapkan “aamiin” serempak.
Di akhir kegiatan, Abah Mursidi kembali menyampaikan rasa syukurnya atas kelancaran acara. Ia juga mengajak seluruh anggota untuk menjaga semangat ziarah ini dalam kehidupan sehari-hari. “Semangat para wali harus kita bawa pulang, bukan hanya jadi cerita, tapi jadi tindakan. Kita harus terus belajar dari mereka, menjadi pribadi yang kuat dalam iman, lembut dalam sikap, dan tegas dalam prinsip,” katanya menutup acara.
Panitia menyatakan bahwa kegiatan seperti ini akan dijadikan agenda rutin, bahkan tak menutup kemungkinan dikembangkan menjadi program pelatihan spiritual dan kepemimpinan berbasis nilai-nilai keagamaan.
Dengan semangat kebersamaan, ziarah Wali 8 yang dilaksanakan MPC Pemuda Pancasila Sidoarjo bukan hanya perjalanan fisik, tapi juga perjalanan hati. Menyusuri jejak para wali, para peserta menemukan kembali jati diri sebagai manusia yang terus belajar menjadi lebih baik—bagi diri, bagi organisasi, dan bagi masyarakat.
[4R]




