BANYUWANGI  || PratamaNews.com || Tanpa panggung, tanpa protokol, dan tanpa piala, Lentera Sastra Banyuwangi, Jumat – Sabtu (1-2/08/2025) menyulut api kecil di Muara Mbadug, sebuah pertemuan sastra yang lebih mirip perayaan jiwa ketimbang acara formal. Di sanalah para penyair, penulis, dan penyuluh agama duduk melingkar di bawah langit, menyanyikan literasi dalam bentuk yang paling manusiawi. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Dr. Chairani Hidayat, tak hanya hadir sebagai pejabat. Ia memetik gitar, bernyanyi, dan menyatu dengan peserta. Ia menyuarakan harapan agar para penyuluh agama mulai menulis, menyuarakan kisah umat yang selama ini hanya berdiam dalam percakapan pribadi.

 

> “Penyuluh agama menyaksikan hal-hal yang tak tertulis. Mereka berada di simpul-simpul kehidupan. Tulisan mereka akan menjadi jendela baru bagi umat,” ujarnya dalam suasana senja yang hening.

 

 

Diskusi sastra, literasi, dan kehidupan berlangsung tanpa moderator. Tak ada sesi tanya jawab. Tapi semua bicara. Semua mendengar. Bahkan laut pun seperti ikut menyimak. Angin menggantikan pengeras suara, dan tikar menggantikan meja bundar seminar. Acara berlangsung dengan kehangatan yang tidak dibuat-buat. Dalam lingkaran itu, Wahyu Fadhil, penyuluh muda dari KUA Tegaldlimo, menyampaikan keinginannya untuk bisa menulis. “Saya ingin bisa seperti kalian,” katanya lirih. Dan mereka yang mendengarnya, menjawab bukan dengan teori, tapi dengan senyum pengertian: Kami pun dulu seperti kamu.

 

Syafaat, ketua Lentera Sastra Banyuwangi, menjelaskan bahwa acara ini tak disusun dengan konsep akademik. “Konsep kami adalah kejujuran,” ujarnya singkat. Ia menekankan bahwa Lentera bukan tempat belajar menulis secara teknis, melainkan ruang bagi orang-orang untuk menemukan dirinya sendiri lewat kata-kata. Gagasan tentang literasi tidak hanya dibahas dalam bentuk ceramah. Ia hidup dalam lagu, dalam tawa, dalam puisi yang dibacakan sambil memanggang ikan. Literasi tak sekadar mengolah aksara, tapi mengasah rasa.

 

Dr. Chairani juga menyoroti pentingnya kemampuan menyusun pertanyaan, bukan hanya mencari jawaban. “Di era AI, pertanyaan dari hati akan lebih bermakna daripada jawaban instan dari mesin,” katanya. Baginya, literasi bukan sekadar kecakapan mengetik, tapi ketajaman membaca dunia. Lentera Sastra Banyuwangi sendiri bukan organisasi besar. Ia hanyalah cahaya kecil di ujung timur Pulau Jawa. Tapi cahaya itu cukup untuk menuntun orang-orang kembali pada hakikat kata: sebagai jembatan antara jiwa dan dunia.

 

Ketika hari berakhir dan matahari tenggelam ke pelukan laut, seorang peserta menulis puisi dengan jari, di atas pasir yang basah. Ia tidak menulis untuk publikasi. Ia menulis untuk dirinya sendiri. Sebab, kadang, menulis adalah bentuk ibadah paling sunyi. Dan itulah yang dibawa pulang oleh para peserta: bukan sertifikat, bukan suvenir, tapi kesadaran bahwa sastra bisa lahir dari keheningan, dari nyanyian camar, dari obrolan di bawah pohon kelapa.

 

Muara Mbadug tak mencatat nama-nama itu di prasasti. Tapi langit, laut, dan angin menyimpannya dalam ingatan abadi. Karena pada hari-hari itu, Banyuwangi tidak hanya berbicara. Ia menyanyikan puisinya sendiri.